الْكَذِبُ
Suka Berkata Dusta
Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah
Halaman 1 dari 5
Daftar Isi
- Dusta membawa kepada kerusakan
- Terkutuklah para pendusta, dan ayat mubahalah
- Dusta menuntun kepada keburukan
- Dusta adalah tanda orang munafik
- Mengaku bermimpi padahal tidak
- Dusta yang tersebar ke segala penjuru
- Mukmin tidak bertabiat dusta, dan kata kiasan
- Menceritakan semua yang didengar
- Prasangka dan raja yang pendusta
- Pelajaran yang bisa dipetik
Suka berkata dusta adalah dosa besar kedua puluh empat dari 77 dosa besar yang disebut Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair, setelah sumpah palsu. Tulisan ini merangkum syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
“…Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mu’min: 28)
Dusta Membawa kepada Kerusakan
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, berbohong itu seluruhnya membawa kepada kerusakan. Hanya saja, tingkat kerusakannya berbeda-beda tergantung persoalannya.
Hanya sebagian kecil dusta yang tidak dilarang, di antaranya dusta untuk memperbaiki hubungan pihak yang bertikai, untuk berbuat baik, atau tujuan-tujuan baik serupa lainnya. Ada sejumlah nash dalam syariat yang tidak melarangnya.
Karena itu, disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi ﷺ memasukkan dusta sebagai sifat orang munafik. Dusta bukanlah sifat orang mukmin, dan orang mukmin itu menjauhi dusta.
Firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al-Mu’min: 28) Ayat ini menunjukkan bahaya dusta bagi orang yang berdusta: dusta menjadi sebab tertutupnya hidayah baginya, dan membuatnya terhalang dari kebaikan. Makna ini juga ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ:
لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Seseorang terus-menerus berdusta dan sangat mudah berdusta, sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat pendusta.”HR. Muslim
Terkutuklah Para Pendusta, dan Ayat Mubahalah
Allah berfirman:
قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.” (QS. Adz-Dzariyat: 10)
Allah berfirman:
ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
“…Kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.” (QS. Ali ‘Imran: 61)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, al-kharrash adalah orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui atas dasar dugaan semata, serta mengabarkan berbagai hal tanpa memastikan kebenarannya, sehingga ia banyak berdusta.
Ayat kedua dinamakan ayat mubahalah. Mubahalah dilakukan di antara dua pihak yang masing-masing mengklaim berada di atas kebenaran dan petunjuk. Mubahalah itu sangat berbahaya.
Pendusta yang berani melakukannya adalah orang yang melakukan kejahatan besar dan membahayakan dirinya sendiri. Ia tahu dirinya berdusta dan keliru, namun tetap melakukan mubahalah terhadap lawannya, padahal ia tahu laknat Allah akan menimpa siapa yang berdusta, dan ia tahu dirinyalah yang berdusta. Inilah yang paling berbahaya dan paling berat terkait dusta.
Dusta Menuntun kepada Keburukan
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Sungguh, dusta menuntun kepada keburukan, dan keburukan itu menuntun ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta (dalam tutur kata dan tindakan) hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘alaih)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits ini mengingatkan bahaya dusta. Seseorang yang suka berdusta, dan juga pelaku dosa besar lainnya, pada mulanya dimulai dari hal kecil. Ia memulai dengan satu kebohongan, lalu menutupinya dengan kebohongan lain, dan demikian seterusnya, sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat pendusta.
Menutup pintu dusta sejak mendidik anak
Bahkan saat mendidik anak kecil pun kita harus memperhatikan hal ini dan menutup pintu dusta. Banyak orang yang tidak takut kepada Allah dalam urusan anak-anaknya, juga anak-anak kaum muslimin, hingga melakukan tindakan yang secara tidak langsung mendidik si anak berdusta.
Seseorang berkata kepada anak kecil: “Kemarilah, saya akan memberimu permen,” atau mengesankan seakan di tangannya ada sesuatu. Si anak pun menghampirinya, lalu ia membuka tangannya, dan si anak tidak menemukan apa pun.
Ini namanya melatih anak berbohong. Anak terlahir dengan fitrah jujur dan membenci kebohongan. Karena itu, ketika anak kecil sering dibohongi, sebenarnya kita sedang melatihnya berdusta. Ini adalah tindak kejahatan terhadap fitrah anak.
Perilaku dusta diawali dari hal kecil. Bisa jadi seorang pendusta besar berawal dari kebohongan orang tuanya atau salah seorang kerabatnya yang menanamkan sifat dusta dalam dirinya tanpa ia sadari. Siapa pun yang berada di hadapan anak-anak harus menjadi teladan yang baik dan mengajarkan kejujuran. Jangan didik mereka untuk berdusta!
Dusta adalah Tanda Orang Munafik
Nabi ﷺ bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara, ia berdusta; bila berjanji, ia ingkar; dan bila dipercaya, ia berkhianat.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau ﷺ juga bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat sifat; barangsiapa yang (empat sifat ini) ada di dalam dirinya, maka ia adalah seorang munafik tulen. Siapa yang pada dirinya terdapat salah satu di antaranya, maka pada dirinya terdapat salah satu sifat nifak sampai ia meninggalkannya: jika dipercaya, ia berkhianat; jika berbicara, ia dusta; jika berjanji, ia berkhianat; dan jika berperkara, ia menuduh yang bukan-bukan.” (Muttafaq ‘alaih)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, kedua hadits ini menunjukkan bahaya dusta, dan bahwa dusta adalah salah satu sifat orang munafik, bukan sifat orang beriman. Orang mukmin itu menjauhi dusta, sebagaimana dikatakan Abu Bakar Ash-Shiddiq:
Mengaku Bermimpi Padahal Tidak
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَفْعَلَ
“Barangsiapa mengaku-ngaku memimpikan sesuatu yang tidak pernah ia lihat dalam mimpinya, ia kelak akan diperintahkan untuk mengikat dua biji gandum pada hari Kiamat. Dan ia tidak akan bisa (mengikatnya).” (HR. Al-Bukhari)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ “barangsiapa mengaku-ngaku memimpikan sesuatu yang tidak pernah ia lihat dalam mimpinya” maksudnya ia berkata kepada kawan-kawannya: “Tadi malam aku bermimpi ini dan ini,” padahal ia tidak memimpikannya dan hanya menceritakan mimpi dusta belaka.
Sebagai hukumannya, كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “ia kelak akan diperintahkan untuk mengikat dua biji gandum pada hari Kiamat.” Ia diberi dua biji gandum dan dikatakan kepadanya: “Ikatlah keduanya,” atau: “Ikatlah dua biji gandum itu satu sama lain.” Ia tidak akan mampu melakukannya, dan ia akan terus disiksa karena kebohongannya itu.
Menutup pintu kesesatan ahli bid’ah
Ini hadits agung untuk menutup pintu kerusakan dan keburukan yang ditimbulkan oleh para ahli bid’ah dan kesesatan. Mereka menyebarluaskan bid’ah melalui kebohongan, menyusupkan keyakinan dan amalan menyimpang ke tengah masyarakat melalui kebohongan, dan memberi kesan kepada orang-orang bahwa mereka memiliki kedudukan di sisi Allah.
Misalnya ia berkata: “Aku bermimpi bertemu Nabi ﷺ,” “Aku bermimpi bertemu Abu Bakar dan Umar,” “Ali datang menghampiriku dalam mimpi,” atau “Setiap hari saya didatangi orang shalih dalam mimpi,” padahal ia berdusta. Tujuannya agar orang-orang mencium tangannya, mengagungkannya, dan agar kedudukannya semakin tinggi di mata manusia.
Setiap hari ia menyampaikan kebohongan baru, hingga orang-orang makin antusias, rela memberikan harta kepadanya, dan berlomba-lomba menjadi orang dekatnya. Dengan kebohongan nyata seperti ini, ia menganggap dirinya suci di hadapan mereka. Para ahli bid’ah dan kesesatan sering kali menggunakan kebatilan seperti ini. Bandingkan dengan bab berdusta atas nama Nabi ﷺ.
Syaikh Abdur Razzaq bercerita: suatu ketika beliau menemukan sebuah buku yang berisi zikir-zikir bid’ah, bahkan sebagian di antaranya berbau syirik, dan berupa jimat yang berisi kata-kata rancu, syirik, bid’ah, serta lafazh yang tidak dimengerti, sampai-sampai beliau berkata: “Subhanallah! Siapa yang mau menerima buku seperti ini?”
Setelah sampai di bagian penutup, beliau membaca tulisan penyusunnya: “Setelah menuntaskan penulisan buku ini, saya tidak menerbitkannya dan ragu untuk mencetaknya. Setelah itu, saya didatangi oleh Rasulullah ﷺ dalam mimpi dan beliau berkata: ‘Hai fulan, kenapa bukumu tidak kunjung kau terbitkan? Kenapa engkau tidak segera mencetaknya? Orang-orang memerlukan bukumu!’ Keesokan harinya, Abu Bakar datang menghampiriku dan mengatakan hal senada…, hingga akhirnya saya terpaksa harus mencetak buku ini agar orang-orang bisa mendapatkan manfaatnya, meski sebenarnya saya ragu untuk mencetaknya.”
Orang-orang awam dan bodoh yang malang sajalah yang mau menerima buku ini, hanya karena penyusunnya mengaku didatangi Abu Bakar, Umar, dan sebelumnya didatangi Nabi ﷺ dalam mimpi, hingga akhirnya bid’ah dan kesesatan menyebar luas di tengah masyarakat.
Orang-orang yang tidak takut kepada Allah menyebarluaskan kebatilan mereka di tengah masyarakat dengan cara seperti ini. Melalui hadits yang agung dan penuh berkah ini, Rasulullah ﷺ menutup rapat-rapat pintu kerusakan dan keburukan bagi siapa yang takut dan bertakwa kepada Allah.
Dusta yang Tersebar ke Segala Penjuru
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِيَ الرَّجُلُ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَيَا
“Sungguh, dusta yang paling berat adalah seseorang mengaku melihat suatu mimpi yang sebenarnya tidak dilihat oleh kedua matanya.” (HR. Al-Bukhari)
Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits Samurah bin Jundub dengan lafazh yang panjang tentang mimpi Nabi ﷺ. Di dalamnya disebutkan:
وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي رَأَيْتَهُ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقَيْهِ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَيْهِ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الْآفَاقَ
“Adapun lelaki yang engkau lihat kedua tulang rahangnya dirobek hingga ke tengkuknya, dan kedua matanya dirobek hingga ke tengkuknya, dia adalah orang yang berangkat pagi hari dari rumahnya, lalu ia menyebarkan dusta hingga memenuhi segala penjuru.” (HR. Al-Bukhari)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits Samurah bin Jundub ini sebenarnya hadits panjang tentang mimpi Nabi ﷺ. Dalam mimpi itu beliau didampingi Jibril. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan hukuman bagi orang yang berat menjalankan shalat, hukuman bagi para pezina, dan bagi orang yang menyebarkan dusta hingga mencapai segala penjuru. Ini hadits agung yang berisi banyak faidah terkait hukuman dan peringatan terhadap dosa-dosa besar. Imam Adz-Dzahabi hanya menyebut penggalan yang menjadi bagian dalil terkait dusta.
| Lafazh | Penjelasan |
|---|---|
| وَأَمَّا الرَّجُلُ “Adapun lelaki…” | Yang berkata di sini adalah Malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ: “Adapun lelaki yang engkau lihat, wahai Rasulullah.” |
| يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ | Ujung mulutnya ditarik ke belakang hingga robek, dan matanya juga ditarik ke belakang hingga ke tengkuk. Seperti itulah ia terus disiksa karena berdusta. |
| الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الْآفَاقَ | Ia adalah orang yang berangkat pagi hari dari rumahnya, lalu menyebarkan dusta hingga memenuhi segala penjuru. |
Peringatan bagi pengguna media sosial
Subhanallah! Hadits ini terwujud nyata di zaman kita dalam skala yang sangat luas melalui komputer dan internet. Seseorang duduk manis di kamar rumahnya, lalu melalui media sosial ia menulis kebohongan dengan tangannya atau berbicara dusta dengan mulutnya. Hanya dalam hitungan satu detik, kebohongannya menyebar ke seluruh dunia.
Hadits ini berisi peringatan dan faidah bagi pengguna media sosial dan internet. Ia harus bertakwa kepada Allah dan tidak memposting apa pun yang berisi kebatilan, kebohongan, atau hoaks, karena postingannya akan mencapai segala penjuru dunia. Kelak ia akan kembali dengan menanggung dosa siapa saja yang termakan olehnya, siapa saja yang terpengaruh karenanya, dan siapa saja yang terdampak kerusakan akibat penyebaran kebohongan tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya kedustaan itu. Mungkin seseorang mengira ia hanya berada di dalam kamar lalu menulis sesuatu, kemudian tulisannya akan lenyap begitu saja. Tidak, tulisannya tidak akan hilang begitu saja. Allah Maha Melihat Anda, dan kata-kata yang Anda tulis ada dalam catatan amal perbuatan Anda. Allah juga mengetahui siapa saja yang terdampak oleh perkataan atau tindakan Anda. Semua itu tertulis dalam timbangan amal keburukan seseorang.
Mukmin Tidak Bertabiat Dusta, dan Kata Kiasan
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ:
يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ
“Orang mukmin itu diciptakan dengan segala tabiat, kecuali tabiat khianat dan dusta.” (HR. Ibnu Abi Syaibah) Hadits ini diriwayatkan dengan dua sanad yang dhaif.
Juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْمَعَارِيضِ لَمَنْدُوحَةً عَنِ الْكَذِبِ
“Sungguh, dalam bahasa-bahasa kiasan itu terdapat alternatif (untuk menghindari) dusta.” (HR. Ibnul A’rabi)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ketika seseorang menghadapi situasi tertentu dan terpaksa harus berbohong, maka إِنَّ فِي الْمَعَارِيضِ لَمَنْدُوحَةً عَنِ الْكَذِبِ “dalam bahasa-bahasa kiasan itu terdapat alternatif (untuk menghindari) dusta.” Ia bisa mengucapkan kata-kata kiasan dan tidak mengucapkan dusta secara terus terang.
Kata kiasan (ma’aridh) adalah kata yang mengesankan makna berbeda, bukan dusta secara terang-terangan. Dengan kata kiasan ini, ia bisa melepaskan diri dari situasi yang mengharuskannya berdusta.
Menceritakan Semua yang Didengar
Nabi ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang bahwa ia mengatakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Nabi ﷺ bersabda:
الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ
“Orang yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya itu seperti orang yang mengenakan dua pakaian dusta.” (HR. Muslim)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, menceritakan segala apa saja yang didengar merupakan celah dan jalan menuju kebohongan. Ini berbahaya bagi pelakunya: ia telah berbuat jahat terhadap dirinya sendiri, dan menjadi celah yang akan mengantarkannya kepada kebohongan. Karena itu, Nabi ﷺ bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang bahwa ia mengatakan segala apa yang ia dengar.”
Berpura-pura memiliki sesuatu
Pada hadits kedua dijelaskan bahwa berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak diberikan adalah salah satu bentuk kebohongan.
Seseorang berkata: “Akulah yang melakukan ini dan ini,” atau “Akulah yang berhasil mencapai ini dan ini,” padahal faktanya tidak demikian.
Ia mengklaim sesuatu yang tidak benar tentang dirinya dengan tujuan mendapatkan pujian atau kedudukan di mata orang lain. Karena itu, ia menyebut-nyebut berbagai perangai, atau menyebut sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia miliki atau lakukan. Orang seperti ini كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ “seperti orang yang mengenakan dua pakaian dusta.”
Prasangka dan Raja yang Pendusta
Nabi ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta.” (Muttafaq ‘alaih)
Nabi ﷺ bersabda: ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ… “Tiga golongan manusia yang Allah tidak berbicara dengan mereka…” Termasuk di antaranya: مَلِكٌ كَذَّابٌ “Raja yang pendusta.” (HR. Muslim)
Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ini juga termasuk celah dusta: mengikuti prasangka dan mengabarkan hal-hal berdasarkan prasangka yang belum dipastikan kebenarannya. إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ maksudnya waspadailah prasangka, فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ “karena sesungguhnya prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta.”
Hadits ini sudah disampaikan sebelumnya, di antaranya pada bab pemimpin yang zalim. Ketika dusta dilakukan tanpa adanya motif yang mendorong untuk berdusta, kejahatannya lebih berbahaya. Seorang raja tentu tidak perlu berdusta karena ia punya kekuasaan; biasanya dusta itu dilakukan orang yang lemah. Karena itu, jika seorang raja berdusta, perilaku ini menunjukkan kerusakan yang ada dalam dirinya. Itulah sebabnya hukumannya sangat berat.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
- Semua dusta membawa kerusakan dengan tingkat yang berbeda; hanya sebagian kecil yang tidak dilarang, seperti untuk mendamaikan pihak yang bertikai.
- Dusta menutup pintu hidayah, menuntun kepada keburukan lalu neraka, hingga pelakunya dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.
- Bermubahalah padahal tahu dirinya dusta adalah bentuk dusta yang paling berbahaya dan paling berat.
- Jangan membohongi anak walau dalam canda kecil; anak lahir di atas fitrah jujur, dan orang dewasa harus menjadi teladan kejujuran.
- Dusta adalah sifat orang munafik, bukan sifat orang beriman.
- Mengaku bermimpi padahal tidak adalah dusta yang paling berat, dan sering dipakai ahli bid’ah untuk menyebarkan kesesatan.
- Orang yang menyebarkan dusta hingga ke segala penjuru disiksa dengan dirobek mulut dan matanya; ini peringatan keras bagi pengguna media sosial.
- Dalam keadaan terpaksa, gunakan kata kiasan, bukan dusta yang terang-terangan.
- Menceritakan semua yang didengar, berpura-pura memiliki sesuatu, dan mengikuti prasangka adalah pintu-pintu dusta.
- Dusta tanpa motif yang mendorongnya, seperti dusta seorang raja, menunjukkan kerusakan jiwa dan hukumannya sangat berat.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang jujur dalam ucapan, tulisan, dan perbuatan, menjaga anak-anak kita di atas fitrah kejujuran, dan melindungi kita dari menyebarkan kebohongan. Aamiin.
Rujukan: Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, Al-Kabair, syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Edisi terjemahan 77 Dosa Besar, bab “Dosa Besar Ke-24: Suka Berkata Dusta”, hlm. 293–301.
Seluruh ayat dan hadits dikutip sebagaimana dibawakan dalam kitab tersebut.
Catatan: Tulisan ini hanya ringkasan. Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan pemahaman yang lebih utuh, bacalah langsung kitabnya.