Kajian Syaikh Abdurrozaq Al Badr -. Orang yang melakukan maksiat selalu digiring oleh setan untuk melakukan maksiat berikutya hingga akhirnya dirinya berlumuran dengan maksiat.
Kata Allah:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan (An Nur: 21)
Imam Ahmad pernah menganalogikan terkait perilaku orang dalam bermaksiat sebagaimana orang yang memiliki baju yang bersih.
- Pada awalnya orang tersebut sangat berhati-hati namun orang tersebut ingin melewati jalanan yang berlumpur. Kehati-hatian orang tersebut sampai-sampai ia tidak mau bajunya terkeca lumpur meskipun hanya sebatas percikan.
- Seiiring orang tersebut berjalan menuju lumpur, maka kakinya pun akhirnya mulai terkena lumpur. Pada kondisi ia tetap hati-hati namun tingkat kewaspadaannya tidak seperti kondisi yang pertama.
- Orang itu terus berjalan hingga akhirnya bajunya pun terkena lumpur, maka pedal kehati-hatiannya pun hilang hingga akhirnya orang tersebut tanpa penuh keraguan masuk ke dalam lumpur.
Begitulah kira-kira keadan orang yang berbuat dosa. Pada awalnya ia akan sangat hati-hati terhadap dosa namun ia melangkahkan kakinya ke dalam dosa setapak demi setapak hingga akhirnya terjerumus dalam perkara yang haram dan batil hingga akhirnya ia tidak memiliki kepekaan terhadap dosa. Nasihat pun disini juga tidak lagi berguna baginya, padahal kata Nabi ﷺ : Allah Telah jadikan nasihat pada hati setiap muslim (HR Ahmad: 17634)
Mengapa nasehat tidak lagi berguna bagi para pelaku dosa yang terus ingin menjerumuskan dirinya ke dalam dosa? Sebab kebiasaannya terhadap suatu dosa membuat kepekaannya terkait suatu dosa pun juga akan berkurang.
Untuk lebih lengkapnya bisa lihat kajian berikut
Semoga Allah memberikan taufik dan perlindungan-Nya kepada kita. Aamiin, baarakallahu fiik.