Dosa Durhaka Kepada Kedua Orang Tua

Dosa Besar Ke-6

عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

Durhaka kepada Kedua Orang Tua

Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah

Halaman 1 dari 6

Daftar Isi
  1. Hak sesama hamba yang pertama
  2. Disandingkan dengan hak Allah
  3. Ukuran berbakti: bayangkan diri di posisi orang tua
  4. Kisah seorang ayah yang mengurus anaknya sehari
  5. Ingatlah masa lalu dan masa depan
  6. Ujian sesungguhnya: ketika orang tua menua
  7. Jangan katakan “ah” dan jangan membentak
  8. Al-Qur’an sebagai obat penyembuh
  9. Dalil-dalil keutamaan berbakti
  10. Diancam tidak masuk surga
  11. Hukuman yang disegerakan dan laknat
  12. Atsar penutup dari kitab terdahulu
  13. Pelajaran yang bisa dipetik

Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar keenam dari 77 dosa besar yang disebut Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair, setelah tidak membayar zakat. Inilah dosa pertama yang berkaitan dengan hak sesama hamba. Tulisan ini merangkum syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ۝ رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ…

“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.’ Rabbmu lebih mengetahui apa yang ada dalam dirimu…” (QS. Al-Isra’: 23–25)

Hak Sesama Hamba yang Pertama

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, dosa sebelumnya, yaitu enggan menunaikan zakat, berkenaan dengan hak-hak Allah. Adapun durhaka kepada kedua orang tua berkenaan dengan hak-hak sesama hamba.

Ketika Imam Adz-Dzahabi mulai menyebutkan dosa-dosa besar yang berkenaan dengan hak sesama hamba, yang pertama ia sebutkan adalah dosa terhadap kedua orang tua. Hal ini mengisyaratkan bahwa kedua orang tua adalah orang yang paling berhak diperlakukan dan diperhatikan dengan baik.

Isyarat ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ yang akan disebutkan kemudian:

أُمَّكَ وَأَبَاكَ، وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

“(Mulailah dari orang yang kamu tanggung nafkahnya): ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, lalu orang-orang dekatmu, dan seterusnya.”HR. Ahmad dan Al-Hakim

Dalam hadits lain, seseorang bertanya: “Siapakah yang harus aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi: “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ayahmu,” lalu beliau menyebutkan sejumlah kerabat dekat. Dalam hadits ini beliau lebih dahulu menyebut kedua orang tua, dan ibu lebih diutamakan karena haknya lebih besar.

Makna ‘uquq

Lafazh عُقُوقٌ berasal dari kata عَقَّ, artinya membelah dan memutuskan. Perbuatan buruk terhadap orang tua dan tidak memperlakukan mereka dengan baik dinamakan الْعُقُوقُ, karena dengan kedurhakaannya itu ia telah memutuskan hak besar kedua orang tua.

Orang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua dan tidak menunaikan hak mereka dinamakan الْعَاقُّ. Sebab ia memutus hak yang Allah jadikan untuk kedua orang tua sebagai balasan atas kebaikan mereka berdua, padahal si anak tumbuh dewasa melalui tangan keduanya.

Disandingkan dengan Hak Allah

Dalil pertama yang disebutkan Imam Adz-Dzahabi adalah firman Allah:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”QS. Al-Isra’: 23

Di dalam ayat ini, berbuat baik kepada kedua orang tua disandingkan dengan hak Allah, yakni tauhid. Pengaitan seperti ini banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“…(Wasiat Kami), ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”QS. Luqman: 14

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”QS. An-Nisa’: 36

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah, ‘Kemarilah! Aku akan membacakan apa yang diharamkan Rabbmu kepadamu, (yaitu) jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua…'”QS. Al-An’am: 151

Ayat-ayat ini menjelaskan besarnya hak kedua orang tua dan besarnya kewajiban yang Allah jadikan untuk keduanya.

“Berbuat baik” mencakup segala kebaikan

Kata ihsan (berbuat baik) yang dituntut dari seorang hamba terhadap kedua orang tuanya mencakup segala perbuatan baik. Bakti dan kebajikan kepada orang tua bukan hanya satu jenis atau satu bidang saja. Bidang bakti itu banyak: perlakuan dan pergaulan yang baik, melirihkan suara, bersikap lemah lembut, dan perilaku baik lainnya. Semuanya termasuk dalam pengertian firman Allah: “hendaklah berbuat baik.”

Karena itu, untuk segala bentuk perlakuan dan pergaulan yang baik, kedua orang tualah yang lebih berhak mendapatkannya.

Ukuran Berbakti: Bayangkan Diri di Posisi Orang Tua

Bagaimana mengetahui apakah perlakuan kita kepada orang tua sudah baik? Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ukuran terbaiknya ada dua tahap:

  1. Bayangkan pengorbanan mereka. Si anak membayangkan dirinya sebagai ayah atau ibu, lalu membayangkan apa yang telah orang tua berikan kepadanya: kehamilan dengan segala beban beratnya, saat-saat melahirkan dengan segala kesusahannya, saat-saat menyusui dan beban beratnya, saat-saat merawat dan memelihara anak, dan seterusnya.
  2. Bayangkan apa yang Anda inginkan di posisi itu. Semua yang ia inginkan ketika berada di posisi orang tua, itulah yang semestinya ia persembahkan kepada kedua orang tuanya.

Inilah makna yang diisyaratkan sabda Nabi ﷺ:

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“…dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.”HR. Muslim

Perlakukan kedua orang tua sebagaimana Anda ingin diperlakukan ketika Anda berposisi sebagai orang tua. Jika Anda berada di posisi mereka, perlakuan apa yang Anda inginkan? Bukankah Anda merawat anak Anda, menjaganya dengan baik, serta memberinya makan dan nafkah dengan baik?

Renungkan perjuangan seorang ibu

Beban berat yang ia hadapi, kesusahan saat mengandung janin selama sembilan bulan: terasa berat saat berdiri, duduk, tidur, dan dalam segala kondisi. Ia menghadapi semua itu dengan beban berat yang hanya diketahui oleh Allah. Lalu beban berat saat melahirkan, menyusui, dan begadang di malam hari. Ketika anaknya sakit, sang ibu berharap andai saja dialah yang sakit, bukan anaknya. Setelah itu si anak beranjak besar, lalu melupakan semua kebaikan ibunya.

Intinya, berbuat baik kepada kedua orang tua bisa dilakukan dengan membayangkan dan merenungkan semua pengorbanan mereka. Renungkanlah makna ini dalam rangkaian wasiat Luqman kepada anaknya:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami), ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.'”QS. Luqman: 14

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

“Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah.”QS. Al-Ahqaf: 15

Hal-hal seperti ini membantu seorang anak berbakti kepada kedua orang tua, karena itulah Allah mengingatkannya di dalam Al-Qur’an. Mengingat kenangan seperti ini memicu bakti kepada orang tua, sedangkan melalaikannya bisa menjerumuskan anak ke dalam kedurhakaan.

Duduklah merenung sesaat. Bayangkan beban berat seorang ayah dalam mencari nafkah. Renungkan saat-saat ibu Anda hamil, melahirkan, dan menyusui; bagaimana semua proses itu terjadi, dan bagaimana ibu Anda memberi Anda makan saat di dalam rahim. Jika Anda merenungkannya, hati Anda pasti tergerak untuk berbakti.

Ketika anak melupakan kebaikan orang tua, suatu hari ia datang meminta sesuatu kepada orang tuanya, lalu keinginannya tidak terpenuhi. Saat itulah ia melupakan seluruh kebaikan orang tua dan berkata: “Aku tidak pernah melihat suatu kebaikan pun dari kalian di rumah ini, kalian tidak pernah memberiku apa pun.”

Si anak melupakan seluruh kebaikan ibu-bapaknya hanya karena satu, dua, atau tiga permintaan yang tidak terpenuhi. Ini termasuk perilaku durhaka yang terdorong oleh sikap melupakan kebaikan orang tua.

Kisah Seorang Ayah yang Mengurus Anaknya Sehari

Karena itu, langkah paling manjur untuk memotivasi birrul walidain adalah merenungkan ayat-ayat seperti “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah” (QS. Luqman: 14), “Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah” (QS. Al-Ahqaf: 15), dan “dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS. Luqman: 14), yakni masa penyusuan yang berlangsung selama dua tahun.

Syaikh Abdur Razzaq bercerita tentang seorang kawannya yang melakukan sebuah eksperimen agar dapat membayangkan dan mengetahui pengorbanan ibunya ketika ia masih kecil, sesuatu yang telah ia lupakan.

Suatu hari, saat fajar, ia berkata kepada istrinya: “Saya yang akan mengurus anak kita (yang berumur kurang lebih satu atau dua tahun). Jangan melakukan apa pun kepadanya, biar saya yang mengurus semuanya.”

Ia bercerita: “Demi Allah, saya menanggung beban berat sekali dan amat kelelahan pada hari itu”: membersihkan kotoran si anak, memberinya makan, menenangkannya saat menangis, dan membersihkan segala macamnya.

“Saya merasakan beban yang amat berat pada hari itu, lalu muncul perasaan di dalam hati saya. Saya bisa merasakan kebaikan yang dilakukan ibu saya kepada saya saat masih kecil, yang saya lupakan setelah saya beranjak besar dan disibukkan dengan pekerjaan. Saya benar-benar melupakan semua itu.” Lalu ia berkata: “Saya melakukan ini dengan maksud untuk mengingat jasa dan pengorbanan orang tua saat saya masih kecil.”

Andai seseorang tidak membuat eksperimen seperti ini dan cukup membaca bimbingan Allah di dalam Al-Qur’an, seperti QS. Luqman: 14 dan QS. Al-Ahqaf: 15, tentu ayat-ayat seperti itulah yang akan menggerakkan perasaan bakti kepada kedua orang tua di dalam hati. Ketika ia melupakan hal ini, ia pasti melupakan bakti kepada kedua orang tua.

Ingatlah Masa Lalu dan Masa Depan

Ada banyak nash tentang durhaka kepada kedua orang tua, sebagiannya disebutkan Imam Adz-Dzahabi di sini. Durhaka kepada kedua orang tua tidak akan pernah hilang dan lenyap. Hukuman sudah menanti pelakunya: hukuman yang disegerakan di dunia, dan hukuman yang ditunda pada hari Kiamat. Nabi ﷺ bersabda: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ “Tidak masuk surga anak yang durhaka (kepada kedua orang tuanya).” Hadits ini dan dalil lainnya akan disebutkan kemudian.

Maka ingatlah masa lalu, dan ingatlah masa depan. Ingatan ini dapat mengatasi perilaku durhaka dan kurangnya bakti kepada orang tua. Keduanya disampaikan dalam ayat ini:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami), ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”QS. Luqman: 14

Yang diingatPenggalan ayatPengaruhnya
Masa lalu“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun”Mengingatkan kebaikan kedua orang tua, sehingga membantu seseorang berbuat baik kepada mereka.
Masa depan“Hanya kepada-Ku (kamu) kembali”Seluruh makhluk akan kembali kepada Allah, dan Allah akan memperhitungkan semua yang engkau lakukan. Allah memerintahkanmu berbuat baik kepada orang tua, tetapi engkau tidak melakukannya; Allah melarangmu durhaka, tetapi engkau justru melakukannya. Perhitungannya akan sangat berat ketika seorang hamba berdiri di hadapan Allah.

Ujian Sesungguhnya: Ketika Orang Tua Menua

Firman Allah selanjutnya dalam matan:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا

“…Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu…”QS. Al-Isra’: 23

Di sini persoalannya semakin besar. Kedua orang tua mulai memasuki usia lemah, memerlukan perlindungan, perhatian, dan pengawasan. Sementara itu, anak sudah tumbuh dewasa dan memasuki pertempuran serta kesibukan hidup, menghadapi kepentingan pribadi, segala urusan, dan kebutuhannya. Inilah fase yang menjadi alat ukur dalam persoalan bakti kepada kedua orang tua. Melalui alat ukur ini akan tampak jelas sifat asli seseorang.

Ketika ayah masih giat, muda, dan kuat, ia tidak memerlukan bantuan anak. Saat seperti itu, perlakuan baik terhadap orang tua belum tampak dan belum dibutuhkan. Bahkan ayahlah yang melayani dan membantu anaknya.

Akan tetapi, inilah alat ukur dan alat ujinya: “Jika salah seorang di antara keduanya…” Banyak orang yang gagal dalam ujian ini, dan banyak di antara mereka yang cepat merasa bosan dan berkeluh kesah menghadapi kebutuhan ayahnya ketika sudah tua renta.

Si anak yang berkeluh kesah ini lupa bahwa jika Allah menakdirkannya berumur panjang, kelak ia akan seperti kedua orang tuanya yang sangat memerlukan bantuan anak. Sebagaimana ia saat ini masih giat, kedua orang tuanya dulu juga pernah giat, bahkan lebih giat dan lebih kuat. Namun inilah ketetapan Allah yang berlaku pada makhluk-Nya. Suatu hari nanti Anda akan menjadi tua seperti kedua orang tua Anda, saat masa muda sudah tidak tersisa lagi:

ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

“Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban.”QS. Ar-Rum: 54

Karena itu, alat ukur dan alat uji tersebut berlaku dalam situasi seperti ini, bukan ketika orang tua masih giat. Di sinilah banyak yang tidak lulus ujian, dan tampak tingkatan serta tanda-tanda perilaku durhaka kepada kedua orang tua.

Itulah sebabnya penegasan untuk berbuat baik kepada orang tua disampaikan pada fase orang tua memasuki usia senja: “Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.” Sebab inilah saat-saat orang tua berada dalam keadaan renta dan lemah. Mungkin ada yang memiliki banyak permintaan dan tuntutan yang menyusahkan, bahkan pikun dalam tindakan dan permintaannya. Hal itu membuat anak tidak sabar, lalu tampak sikap keluh kesah dan tidak suka, muncul ucapan “Cih!”, bentakan, dan sikap serupa lainnya.

Sebagian orang gagal dalam ujian ini dengan menitipkan orang tuanya di panti jompo, lalu berlepas tangan tanpa pernah menjenguknya.

Syaikh Abdur Razzaq bercerita: “Di salah satu panti jompo, saya pernah menjumpai orang tua yang anak-anaknya hidup berkecukupan. Namun selama 15 tahun mereka tidak pernah melihat orang tua yang mereka titipkan di panti jompo. Bahkan mungkin saja orang tua mereka meninggal dunia tanpa mereka ketahui kabar beritanya, seakan ayah mereka tidak pernah menjadi ayah bagi mereka, dan seakan ibu mereka tidak pernah menjadi ibu bagi mereka. Sungguh tragis, mengapa ini bisa terjadi?”

Perilaku durhaka seperti ini rentan terkena hukuman berat di dunia yang akan dirasakan anak-anak durhaka, bahkan hukuman berat pada hari Kiamat saat mereka berjumpa dengan Allah: إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Hanya kepada-Ku (kamu) kembali” (QS. Luqman: 14).

Dengan demikian, durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar dan perkara besar yang sangat berat hukumannya di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat, dan hukumannya disegerakan bagi anak durhaka.

Jangan Katakan “Ah” dan Jangan Membentak

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا

“…maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan engkau membentak keduanya.”QS. Al-Isra’: 23

Kata “ah” أُفٍّ

Kata yang diucapkan sebagai ekspresi keluh kesah dan sudah dekat dengan lidah. Ia bernapas dari dada karena keluh kesah di dalamnya, lalu keluh kesah itu keluar dari mulut. Ketika orang tua meminta satu atau dua hal, padahal bisa jadi demi kepentingan si anak sendiri, ia mengucapkan “Cih!” karena kurangnya perhatian.

Membentak تَنْهَرْهُمَا

Bentakan, suara keras, bersikap tinggi hati kepada kedua orang tua, serta mencegah keduanya melakukan atau mengucapkan sesuatu. Bahkan jika ia bermaksud mencegah orang tuanya dari perbuatan mungkar, tetap saja tidak boleh dilakukan dengan bersuara keras.

Perkataan yang baik قَوْلًا كَرِيمًا

Allah tidak menentukan seperti apa perkataan yang baik itu. Maka yang dimaksud mencakup seluruh tutur kata manis, indah didengar, dan kata-kata baik yang disampaikan kepada kedua orang tua.

Lihatlah wasiat agung dari Allah ini. Jika kata “Cih”, yang hanya berupa suara keluh kesah dari mulut, dilarang oleh Allah, lalu bagaimana dengan memaki orang tua? Bagaimana dengan cacian dan laknat yang ditujukan kepada orang tua? Wal ‘iyadzu billah.

Bahkan kepada orang tua yang memaksa berbuat syirik

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergauli keduanya di dunia dengan baik…”QS. Luqman: 15

Meskipun kedua orang tua memaksa anaknya menyekutukan Allah, Allah tidak berfirman: “Maka durhakailah keduanya.” Yang Allah firmankan: “janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Lantas bagaimana dengan kedua orang tua yang muslim, shalih, dan istiqamah, yang memberikan kebaikan besar kepada anaknya? Maka sikap kita adalah sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“…dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”QS. Al-Isra’: 23

Manis kepada teman, kasar kepada ibu

Ada sebagian orang yang pandai memilih kata-kata yang baik saat berbicara dengan teman-temannya, padahal teman itu belum pernah berbuat baik kepadanya. Lalu, setelah temannya pergi, ia masuk rumah dengan muka yang berbeda.

Kepada teman yang baru dikenal sebulan atau dua bulanKepada ibu di rumah
“Wahai saudaraku yang mulia,” “Tolong,” “Bisakah,” “Suatu kehormatan bagi saya,” dengan lembut, kata-kata yang lirih, dan sopan santun.“Kamu begini dan begini,” dengan suara keras dan kata-kata yang menyakitkan.
Kawan-kawannya berkata: “Dia ini tidak ada bandingnya dalam hal akhlak baik.”Andai mereka tahu perlakuannya kepada ibunya, mereka pasti tahu bahwa ia termasuk orang yang paling buruk budi pekertinya.
Ketika menginginkan sesuatu, ia meminta dengan sopan.Ketika menginginkan sesuatu, ia langsung berkata: “Berikan saya ini dan ini.”

Orang yang paling berhak mendapatkan tutur kata indah, perlakuan baik, dan budi pekerti yang baik adalah kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.”

Maksudnya, semua sikap lemah lembut dan perlakuan baik yang ditunjukkan seseorang kepada temannya lebih berhak ditunjukkan di depan kedua orang tua. Jangan sampai bertutur kata indah kepada teman-teman, tetapi tidak kepada orang tua. Ibu lebih berhak untuk Anda katakan kepadanya: “Wahai ibuku yang mulia.”

Al-Qur’an sebagai Obat Penyembuh

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, QS. Al-Isra’: 23–25 yang disebutkan Imam Adz-Dzahabi di awal bab ini pada hakikatnya adalah ayat yang agung.

Ada satu hal bermanfaat yang disampaikan para ulama dalam persoalan ini, yaitu mengobati jiwa dengan Al-Qur’an. Seorang hamba memeriksa sisi-sisi jiwanya yang rusak, berpenyakit, dan kurang, lalu mengobatinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Sebagai contoh, siapa yang berperilaku durhaka kepada orang tua atau lalai menjalankan kewajiban, ia dapat mengobatinya dengan surah Al-Isra’ ini. Bacalah berulang kali, renungkan, dan hayati makna serta petunjuknya. Bacalah kitab-kitab tafsir dan penjelasan ulama, hingga hidayah Al-Qur’an itu menjadi penawar baginya.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.”QS. Al-Isra’: 9

Hidayah Al-Qur’an itu perlu dihayati. Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an? Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentu mereka mendapati banyak pertentangan di dalamnya.”QS. An-Nisa’: 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?”QS. Muhammad: 24

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ

“Tidakkah mereka merenungkan firman (Allah)?”QS. Al-Mu’minun: 68

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Al-Qur’an ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepada engkau (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”QS. Shad: 29

Tidak cukup hanya membacanya tanpa merenungkan, menghayati, dan memikirkan makna-makna serta petunjuknya. Ketika Anda merenungkan ayat seperti ini sekali, dua kali, tiga kali, dan empat kali, merujuk kitab-kitab tafsir, merenungkan kondisi Anda, lalu membandingkan kondisi Anda dengan ayat yang Anda baca dan memperhatikan bagian apa yang bisa Anda dapatkan darinya, dengan cara seperti inilah jiwa Anda akan terobati.

Al-Qur’an itu penyembuh, sebagaimana firman-Nya:

  • وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar.” (QS. Al-Isra’: 82)
  • قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ “Katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.'” (QS. Fushshilat: 44)
  • وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ “…dan penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada.” (QS. Yunus: 57)
Cara berobat dengan Al-Qur’an

Hayati, pikirkan, dan renungkan ayat-ayatnya. Lalu bandingkan diri, kondisi, dan posisi Anda: bagaimanakah posisi saya terhadap ayat ini? Perhatikan perilaku Anda. Jika memang semuanya baik, pujilah Allah dan teruslah meningkatkan kebaikan. Jika masih ada kelalaian, masih ada kesempatan yang terbuka dan tersedia bagi Anda untuk berbenah diri. Renungkan pula sambil memohon hidayah, bimbingan, dan taufik dari Allah.

Dalil-Dalil Keutamaan Berbakti

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah Nabi ﷺ yang disebutkan Imam Adz-Dzahabi menjelaskan besarnya kedudukan dan hak kedua orang tua, serta kewajiban anak terhadap keduanya. Di dalamnya ada peringatan akan hukuman keras bagi yang durhaka, baik yang disegerakan di dunia maupun yang ditunda di akhirat, serta anjuran berbakti dengan menyebutkan pahala besar di dunia dan akhirat bagi yang berbakti.

Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Kami telah mewasiatkan (kepada) manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8)

Termasuk dosa besar yang paling besar

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟

“Maukah aku beritahukan kalian dosa-dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab: “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua…”Muttafaq ‘alaih

Sebagaimana di dalam Al-Qur’an, hadits ini juga mengaitkan hak orang tua dengan hak Allah. Hal serupa disebutkan dalam hadits berikutnya:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah bergantung kepada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung kepada murka orang tua.”HR. At-Tirmidzi; hadits shahih

Orang tua di sini mencakup ibu dan ayah.

Pintu surga yang tengah

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَاحْفَظْ، وَإِنْ شِئْتَ فَضَيِّعْ

“Orang tua itu (perantara untuk meraih) pintu surga yang tengah. Maka, jika engkau mau, silakan engkau menjaganya, jika engkau tidak mau, silakan engkau menyia-nyiakannya.”HR. At-Tirmidzi; dishahihkan oleh At-Tirmidzi. Juga diriwayatkan Ibnu Majah.

Kedua orang tua adalah perantara untuk meraih salah satu pintu surga bagi siapa yang berbakti dan menunaikan hak mereka berdua. Ketentuannya ada di tanganmu saat ini, selama engkau masih hidup di dunia, negeri tempat beramal. Bisa jadi engkau kehilangan kesempatan yang sangat berharga ini, yaitu manakala engkau kehilangan kedua orang tua dan belum sempat berbakti. Sering kali penyesalan itu terjadi karena kelalaian si anak.

“Surga di bawah telapak kaki ibu”

Imam Adz-Dzahabi juga membawakan riwayat الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” (HR. Al-Quda’i dan Ad-Dailami).

Derajat hadits

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits dengan lafazh ini tidak shahih. Hanya saja, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada seorang lelaki: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا “Apakah kamu masih punya ibu?” Ia menjawab: “Ya, (masih).” Beliau bersabda: “Maka tinggallah selalu di dekatnya, karena sungguh surga ada di bawah kedua kakinya.” (HR. Al-Hakim; ia berkata, sanadnya shahih)

Hadits ini menunjukkan betapa besar hak seorang ibu, dan betapa besar kewajiban anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Maknanya didukung hadits sebelumnya: “Orang tua itu (perantara untuk meraih) pintu surga yang tengah.”

Berjihad pada kedua orang tua

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Seorang lelaki datang meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk turut berjihad bersama beliau, lalu beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya, (mereka masih hidup),” jawabnya. Beliau kemudian berkata: “Maka kepada mereka berdualah hendaknya engkau berjihad.”HR. Al-Bukhari dan Muslim

Urutan orang yang paling berhak

أُمَّكَ وَأَبَاكَ، وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

“(Menafkahi orang-orang yang menjadi tanggunganmu itu dimulai dari) ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian orang yang paling dekat denganmu, dan seterusnya.”HR. Ahmad

  1. Ibu, disebut paling awal.
  2. Ayah.
  3. Saudara perempuan. Ia didahulukan atas saudara laki-laki karena wanita lebih lemah dan lebih membutuhkan bantuan.
  4. Saudara laki-laki.
  5. Kerabat lain sesuai urutan yang paling dekat: ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ.

Dalam hadits lain disebutkan:

مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ

“Siapakah orang yang paling patut untuk aku perlakukan dengan baik, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya: “Lalu siapa?” Beliau menjawab: “Ayahmu.”HR. Al-Bukhari dan Muslim

Isyarat dari Imam Al-Bukhari

Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, kitab yang khusus membahas adab-adab dalam Islam, kitab yang agung dan diberkahi, Imam Al-Bukhari meletakkan bab birrul walidain sebagai bab pertama, dimulai dari hadits “Siapakah yang paling patut aku perlakukan dengan baik?” Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ini isyarat yang sangat indah. Seakan Al-Bukhari mengatakan: siapa yang ingin mempelajari dan mengenal adab, ketahuilah bahwa orang yang paling berhak diperlakukan dengan penuh adab dan kesopanan adalah kedua orang tua.

Diancam Tidak Masuk Surga

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ وَلَا مَنَّانٌ، وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَلَا مُؤْمِنٌ بِسِحْرٍ

“Tidak masuk surga orang yang durhaka (kepada kedua orang tuanya), orang yang menyebut-nyebut (pemberiannya), pecandu khamar, serta tidak pula orang yang percaya kepada sihir.”HR. Ahmad

Ancaman “tidak masuk surga” menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebelumnya telah dibahas kriteria suatu perbuatan termasuk dosa besar, antara lain pelakunya diancam tidak masuk surga, tidak akan mencium aroma surga, atau diancam dengan neraka.

LafazhMaknanya menurut Syaikh Abdur Razzaq
عَاقٌّ
Durhaka
Orang yang durhaka kepada orang tuanya, yaitu menyia-nyiakan dan mengabaikan hak-hak kedua orang tua yang Allah perintahkan, seakan memutus hak tersebut.
مَنَّانٌ
Suka mengungkit pemberian
Orang yang ketika memberi sesuatu kepada orang lain selalu menyebut-nyebutnya, sehingga menyakiti perasaan orang yang diberi. Bisa jadi ia memberi sesuatu lalu meminta banyak hal, dan setiap kali meminta ia berkata: “Kau lupa hari itu, ketika aku memberimu…?”
مُدْمِنُ خَمْرٍ
Pecandu khamar
Orang yang terus-menerus meminum khamar. Bukan khamar saja: setiap barang yang memabukkan, seperti minuman memabukkan dan obat-obatan terlarang, hukumnya sama.
مُؤْمِنٌ بِسِحْرٍ
Percaya kepada sihir
Membenarkan sihir. Mempercayai sihir adalah kekufuran terhadap Allah, karena tukang sihir tidak menjadi penyihir kecuali dengan kafir kepada Allah, dan tidak ada yang mempercayai serta membenarkan sihir kecuali orang kafir. Lihat Dosa Besar Ke-3: Sihir.

Setelah syirik, durhaka kepada orang tua

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَا الْكَبَائِرُ؟ قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، قَالَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: الْيَمِينُ الْغَمُوسُ

“Datanglah seorang Arab badui lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Apakah itu dosa-dosa besar?’ Beliau menjawab: ‘Menyekutukan Allah.’ Orang tersebut kembali bertanya: ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Kemudian durhaka kepada kedua orang tua.’ Orang tersebut kembali bertanya: ‘Lalu apa lagi?’ ‘Kemudian bersumpah dusta (yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka),’ jelas beliau.”HR. Al-Bukhari

Sabda Nabi ﷺ ini mengaitkan hak kedua orang tua dengan hak Allah, dan mengaitkan perilaku durhaka terhadap orang tua dengan perbuatan syirik. Ini menunjukkan bahwa mendurhakai orang tua itu dosa besar dan berbahaya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa sumpah dusta termasuk dosa besar. Menurut salah satu pendapat, sumpah dusta dinamakan ghamus karena sumpah ini menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Sumpah dusta adalah sumpah palsu yang dengannya orang yang bersumpah merebut harta orang lain tanpa alasan yang benar. Ia bersumpah palsu dan berdusta atas nama Allah bahwa harta tersebut miliknya, padahal ia dusta dalam sumpahnya.

Durhaka dan mendustakan takdir

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ وَلَا مُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ

“Tidak masuk surga orang yang durhaka (kepada kedua orang tuanya), tidak pula orang yang mendustakan takdir.”HR. Ibnu Majah dan Ahmad

Hadits ini semakna dengan hadits sebelumnya, hanya saja ditambahkan “mendustakan takdir”. Mendustakan takdir termasuk kekufuran terhadap Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ “Takdir itu merupakan rangkaian tauhid. Maka barang siapa beriman kepada Allah namun ia mendustakan takdir, berarti pendustaannya telah membatalkan tauhidnya.”Ibnu Abbas

Maksudnya, tauhid dan keimanan tidak akan tertata rapi dan lurus kecuali dengan mengimani takdir. Sebagaimana dikatakan Imam Ahmad, takdir itu adalah kekuasaan Allah. Lalu di manakah iman orang yang tidak percaya kepada kekuasaan Allah, padahal segala sesuatu terjadi karena kehendak dan kuasa-Nya?

Rajin beribadah, tetapi durhaka

Isa bin Thalhah bin Ubaidillah meriwayatkan dari Amr bin Murrah Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ وَحَجَجْتُ الْبَيْتَ فَمَاذَا لِي؟ قَالَ: مَنْ فَعَلَ ذَٰلِكَ كَانَ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ، إِلَّا أَنْ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ

“Wahai Rasulullah! Bagaimanakah menurutmu jika saya melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menunaikan zakat, dan berhaji ke Baitullah, maka apa balasan yang akan saya dapatkan?” Beliau menjawab: “Siapa yang melakukan demikian, maka ia bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih, kecuali jika ia durhaka kepada kedua orang tuanya.”HR. Ahmad dan Ath-Thabrani; At-Targhib wat Tarhib

Hadits ini menunjukkan bahaya durhaka kepada kedua orang tua. Meskipun seseorang menjaga amalan-amalan fardhu, jika ia mendurhakai kedua orang tuanya, ia berada dalam bahaya besar.

Catatan tentang lafazh hadits

Muhaqqiq kitab Al-Kabair mengingatkan bahwa dalam hadits ini tidak terdapat lafazh إِلَّا أَنْ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ “kecuali jika ia durhaka kepada kedua orang tuanya.” Syaikh Abdur Razzaq menyebutkan bahwa beliau belum mengecek apakah tambahan lafazh ini shahih atau tidak. Muhaqqiq kitab ini juga mengisyaratkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar.

Hukuman yang Disegerakan dan Laknat

Diriwayatkan dari Bakkar bin Abdil Aziz bin Abi Bakrah, dari ayahnya, dari Abu Bakrah, dengan sanad yang tersambung hingga Nabi ﷺ (marfu’):

كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مِنْهَا مَا شَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ، فَإِنَّهُ يُعَجِّلُ لِصَاحِبِهِ

“Setiap dosa Allah tunda pembalasannya sesuai kehendak-Nya hingga hari Kiamat, kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua, karena balasannya akan disegerakan bagi pelakunya.”HR. Al-Hakim dan Al-Ashbahani; Al-Hakim berkata, sanadnya shahih

Hukuman bagi yang mendurhakai orang tua akan disegerakan, di samping hukuman yang ditunda pada hari Kiamat. Hukuman yang disegerakan itu bisa jadi dalam bentuk anak-anaknya sendiri yang durhaka kepadanya, atau hukuman lainnya, sebagai balasan atas kedurhakaannya kepada kedua orang tua.

Jasa orang tua yang tak terbalas

لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا، إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا، فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidaklah bisa membalas (jasa dan kebaikan) orang tuanya, kecuali bila ia mendapatkan orang tuanya dalam kondisi sebagai hamba sahaya, lalu ia membelinya dan memerdekakannya.”HR. Muslim

Seperti apa pun bakti seorang anak kepada orang tua, tetap saja ia tidak akan dapat membalas sedikit saja dari kebaikan mereka. Siapa gerangan yang bisa membalas kebaikan seorang ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui dalam rentang waktu hampir tiga tahun: sembilan bulan masa mengandung dan dua tahun masa menyusui?

Seorang ibu menanggung beban berat mengurus anak dengan harapan anaknya sehat dan diberi kehidupan yang baik oleh Allah. Adapun sebagian orang yang berbakti kepada orang tua ketika sudah renta dan menanggung keletihan saat berbuat baik kepada keduanya, mungkin di dalam hatinya mengharapkan hal lain, yang sama sekali tidak terdapat di dalam hati ibunya ketika dulu merawatnya, memuliakannya, memperlakukannya dengan baik, dan menjaga haknya.

Siapa saja yang membaca buku-buku tentang birrul walidain dan kisah anak durhaka pasti akan mendapati banyak contoh dan bukti sepanjang sejarah tentang keutamaan birrul walidain serta hukuman bagi yang durhaka.

Dilaknat oleh Allah

لَعَنَ اللَّهُ الْعَاقَّ لِوَالِدَيْهِ

“Allah melaknat orang yang mendurhakai kedua orang tuanya.”HR. Al-Hakim; dengan sanad hasan

Laknat artinya diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Dilaknatnya pelaku perbuatan ini menunjukkan bahwa ‘uququl walidain atau mendurhakai orang tua termasuk dosa besar.

Bibi kedudukannya seperti ibu

الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ

“Bibi itu kedudukannya seperti ibu.”HR. At-Tirmidzi; dishahihkan oleh At-Tirmidzi

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang bibi (al-khalah) layak mendapatkan bakti, perlakuan baik, dan sikap lemah lembut, karena kedudukannya sama seperti ibu.

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ini isyarat yang indah dari Imam Adz-Dzahabi. Setelah menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits tentang birrul walidain, beliau menutupnya dengan hadits ini. Tujuannya: ketika Anda membaca nash dan dalil terkait hak ibu, jangan sampai Anda lupa sabda Nabi ﷺ, “Bibi kedudukannya seperti ibu.”

Atsar Penutup dari Kitab Terdahulu

Imam Adz-Dzahabi menutup pembahasan dosa besar ini dengan beberapa atsar, termasuk kisah yang diriwayatkan dari Bani Israil dan bersumber dari kitab-kitab terdahulu.

Wahab bin Munabbih berkata: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: يَا مُوسَىٰ، وَقِّرْ وَالِدَيْكَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَقَّرَ وَالِدَيْهِ مَدَدْتُ لَهُ فِي عُمُرِهِ وَوَهَبْتُ لَهُ وَلَدًا يَبَرُّهُ، وَمَنْ عَقَّ وَالِدَيْهِ قَصَرْتُ لَهُ مِنْ عُمُرِهِ وَوَهَبْتُ لَهُ وَلَدًا يَعُقُّهُ “Sungguh, Allah berfirman: ‘Wahai Musa! Muliakanlah kedua orang tuamu, karena barang siapa memuliakan kedua orang tuanya, maka Aku panjangkan umurnya, dan Aku akan memberinya anak yang berbakti kepadanya. Sebaliknya, barang siapa durhaka kepada kedua orang tuanya, Aku pendekkan umurnya, dan Aku akan memberinya anak yang durhaka kepadanya.'” (HR. Al-Asbihani dan Ad-Dainuri)

Ka’ab berkata: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ اللَّهَ لَيُعَجِّلُ حَيْنَ الْعَبْدِ إِذَا كَانَ عَاقًّا لِوَالِدَيْهِ لِيُعَجِّلَ لَهُ الْعَذَابَ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ فِي عُمُرِ الْعَبْدِ إِذَا كَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ لِيَزِيدَهُ بِرًّا وَخَيْرًا “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh, Allah benar-benar menyegerakan kebinasaan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, agar Allah menyegerakan azab kepadanya. Dan sungguh, Allah menambah umur seorang hamba jika ia berbakti kepada kedua orang tuanya, agar Allah makin menambahkan kebajikan dan kebaikan baginya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah)

Abu Bakar bin Abi Maryam berkata: قَرَأْتُ فِي التَّوْرَاةِ: مَنْ يَضْرِبْ أَبَاهُ يُقْتَلْ “Aku pernah membaca di dalam kitab Taurat: ‘Siapa yang memukul ayahnya, maka (hukumannya adalah) dibunuh.'”

Wahab berkata: قَرَأْتُ فِي التَّوْرَاةِ: مَنْ صَكَّ وَالِدَهُ الرَّجْمُ “Aku pernah membaca di dalam kitab Taurat: ‘Siapa yang memukul ayahnya, maka (hukumannya adalah) dirajam.'”

Kedudukan atsar-atsar ini

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan atsar-atsar ini bukan untuk dijadikan dalil, karena atsar semacam ini tidak bisa dijadikan tumpuan dan sandaran dalil. Kisah seperti ini dikutip sebatas sebagai pendukung, sesuai kebiasaan para ulama. Terkait kisah israiliyat seperti ini, mereka mengatakan: “Dikutip hanya untuk menguatkan semata, bukan untuk dijadikan dalil,” atau “Disebutkan hanya untuk mendukung saja.” Atsar Wahab bin Munabbih dan Ka’ab disebutkan semata untuk mendukung dalil-dalil sebelumnya, sebagai penutup bab ini.

Dari catatan kaki naskah

Memang ada sebagian perilaku durhaka kepada orang tua yang lebih besar dosanya dari yang lain, seperti disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ: إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ “Sungguh, di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri.” (Para Sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri?” Beliau menjawab: “Dia mencaci ayah seseorang, hingga ia balas mencaci ayahnya, dan ia mencaci ibu seseorang, hingga ia balas mencaci ibunya.”

Imam Adz-Dzahabi tidak menyebutkan semua dalil, karena dalil-dalilnya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah jauh lebih banyak. Sebagian ulama bahkan menulis kitab tersendiri yang berisi dalil-dalil tentang birrul walidain.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

  1. Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar pertama yang berkaitan dengan hak sesama hamba, karena orang tua adalah orang yang paling berhak diperlakukan dengan baik.
  2. ‘Uquq berarti memutus. Anak yang durhaka memutus hak besar yang Allah jadikan untuk orang tua sebagai balasan atas kebaikan mereka.
  3. Al-Qur’an dan hadits berulang kali menyandingkan hak orang tua dengan hak Allah, dan menyandingkan durhaka dengan syirik.
  4. Berbuat baik kepada orang tua mencakup segala bentuk kebaikan: pergaulan yang baik, melirihkan suara, bersikap lemah lembut, dan perilaku baik lainnya.
  5. Cara terbaik untuk berbakti adalah membayangkan diri di posisi orang tua dan merenungkan pengorbanan mereka, terutama ibu.
  6. Ingatlah masa lalu (kebaikan orang tua) dan masa depan (kembali kepada Allah dan hisab-Nya).
  7. Ujian sesungguhnya datang ketika orang tua menua dan lemah. Jangan berkata “ah”, jangan membentak, dan ucapkanlah perkataan yang baik.
  8. Orang tua lebih berhak mendapat tutur kata manis daripada teman. Bahkan orang tua yang memaksa berbuat syirik tetap harus dipergauli dengan baik.
  9. Obati jiwa dengan merenungkan Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Isra’: 23–25, lalu bandingkan kondisi diri dengan ayat tersebut.
  10. Orang tua adalah pintu surga yang tengah, dan ibu didahulukan tiga kali atas ayah dalam hak perlakuan baik. Bibi kedudukannya seperti ibu.
  11. Anak durhaka diancam tidak masuk surga, dilaknat Allah, dan hukumannya disegerakan di dunia, di samping hukuman di akhirat.

Kita memohon kepada Allah semoga menolong kita agar dapat berbakti kepada kedua orang tua, melindungi kita dari perilaku durhaka, dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Semoga Allah membalas kedua orang tua kita dengan balasan terbaik atas semua kebaikan mereka untuk kita, serta mengasihi keduanya sebagaimana keduanya menyayangi kita di waktu kecil. Aamiin.

Rujukan: Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, Al-Kabair, syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Edisi terjemahan 77 Dosa Besar, bab “Dosa Besar Ke-6: Durhaka kepada Kedua Orang Tua”, hlm. 121–147.

Seluruh ayat dan hadits dikutip sebagaimana dibawakan dalam kitab tersebut.

Catatan: Tulisan ini hanya ringkasan. Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan pemahaman yang lebih utuh, bacalah langsung kitabnya.

Lihat daftar lengkap 77 dosa besar (Al-Kabair) →