Dosa Sombong

Dosa Besar Ke-15

الْكِبْرُ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ وَالْعُجْبُ وَالتِّيهُ

Sombong, Bangga Diri, Angkuh, Ujub, dan Congkak

Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah

Halaman 1 dari 6

Daftar Isi
  1. Dosa besar yang paling buruk dan mengerikan
  2. Dibenci Allah dan membantah ayat-ayat-Nya
  3. Sebesar zarrah pun menghalangi dari surga
  4. Dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah
  5. Hakikat sombong: menolak kebenaran dan meremehkan manusia
  6. “Keagungan itu sarung-Ku, kebesaran itu pakaian-Ku”
  7. Perdebatan surga dan neraka
  8. Negeri akhirat bukan untuk orang sombong
  9. Jangan memalingkan wajah dan berjalan angkuh
  10. “Aku tidak bisa”: menolak sunnah karena sombong
  11. Golongan sombong penghuni neraka
  12. Kesombongan yang paling buruk: sombong dengan ilmu
  13. Pelajaran yang bisa dipetik

Sombong, bangga diri, angkuh, ujub, dan congkak adalah dosa besar kelima belas dari 77 dosa besar yang disebut Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair, setelah minum khamar. Inilah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah. Tulisan ini merangkum syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Allah berfirman:

وَقَالَ مُوسَىٰ إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ

“Musa berkata, ‘Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari Perhitungan.'” (QS. Al-Mu’min: 27)

Dosa Besar yang Paling Buruk dan Mengerikan

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dosa besar kelima belas: الْكِبْرُ وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ وَالْعُجْبُ وَالتِّيهُ “sombong, bangga diri, angkuh, ujub, dan congkak.” Menurut Syaikh Abdur Razzaq, semua dosa ini berkisar pada makna yang hampir sama dan senada.

Sombong termasuk dosa besar yang paling buruk dan paling mengerikan. Dengan dosa ini seorang hamba merasa tinggi hati, menganggap derajatnya lebih tinggi daripada orang lain, dan merasa lebih istimewa dari mereka. Karena itu, hukuman orang seperti ini tidak sama dengan hukuman pelaku dosa-dosa lainnya, sebagaimana disebutkan dalam nash-nash berikutnya.

Imam Adz-Dzahabi memulai pembahasan dengan ayat dari surah Al-Mu’min di atas. Di dalamnya disebutkan bahwa sifat sombong mendorong seseorang untuk:

  • mengingkari fakta,
  • meremehkan orang lain,
  • menolak kebenaran,
  • dan merasa derajatnya lebih tinggi daripada orang lain.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa seseorang harus berlindung kepada Allah dari kesombongan dan dari orang-orang yang sombong.

Dibenci Allah dan Membantah Ayat-Ayat-Nya

Allah berfirman: إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl: 23)

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ…

“Sesungguhnya orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, tidaklah ada dalam dada mereka kecuali kesombongan (untuk tujuan) yang tidak akan mereka capai, maka mintalah pelindungan kepada Allah…” (QS. Al-Mu’min: 56)

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, dari kedua ayat ini Imam Adz-Dzahabi ingin menunjukkan bahwa orang yang sombong itu dibenci dan tidak disukai Allah, serta menunjukkan bahaya sifat sombong bagi pemiliknya.

Di antara dampak buruk sifat sombong adalah mendebat dan membantah ayat-ayat Allah tanpa dalil. Yang mendorong perdebatan itu adalah kesombongan di dalam dada. Orang sombong menolak kebenaran, tidak mau menerimanya, dan berdebat tanpa landasan ilmu karena kesombongan di hatinya. Karena itulah Allah berfirman: “maka mintalah pelindungan kepada Allah.”

Dari catatan kaki naskah

Perintah serupa untuk berlindung kepada Allah juga disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 200, QS. An-Nahl: 98, dan QS. Fushshilat: 36.

Sebesar Zarrah pun Menghalangi dari Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski seberat biji zarrah sekalipun.” (HR. Muslim)

Nabi ﷺ bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ فِي بُرْدَيْهِ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang lelaki berjalan dengan sombong sambil mengenakan dua mantelnya, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terperosok ke dalamnya hingga hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

Nabi ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ الْجَبَّارُونَ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ يَطَؤُهُمُ النَّاسُ

“Orang-orang congkak lagi sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut-semut kecil, yang akan diinjak-injak manusia.” (HR. At-Tirmidzi)

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits-hadits ini menunjukkan bahaya sifat sombong dan hukuman bagi pelakunya. Siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski seberat biji zarrah, ia tidak akan masuk surga.

Balasan yang setimpal dengan perbuatan

Hukumannya disesuaikan dengan perbuatannya. Ia meninggikan diri, maka Allah merendahkannya dan membenamkannya ke dalam bumi: فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا, ia berbolak-balik dan terus terjatuh ke dalam bumi hingga hari Kiamat. Mereka bersikap sombong dan merasa tinggi derajatnya, maka sebagai hukuman Allah merendahkan mereka: pada hari Kiamat mereka didatangkan bagaikan semut-semut kecil yang diinjak-injak manusia dengan kaki-kaki mereka.

Dosa Pertama yang Dilakukan terhadap Allah

Sebagian ulama salaf berkata: “Dosa pertama yang Allah didurhakai dengannya adalah sombong.”

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Dia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Karena itu, siapa yang menyombongkan diri terhadap kebenaran sebagaimana yang dilakukan Iblis, maka imannya tidak akan berguna baginya.

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan perkataan sebagian ulama salaf ini lalu menyebutkan dalilnya, yaitu QS. Al-Baqarah: 34.

Dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah adalah sombong, dan dampaknya adalah sikap menolak untuk sujud. Allah memerintahkan Iblis bersujud kepada Adam ‘alaihissalam, lalu ia enggan bersujud karena kesombongan di dalam dirinya. Karena itu, siapa yang menyombongkan diri, berarti ia menyerupai Iblis.

Hakikat Sombong: Menolak Kebenaran dan Meremehkan Manusia

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

الْكِبْرُ سَفَهُ الْحَقِّ وَغَمْصُ النَّاسِ

“Sombong itu adalah meremehkan kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam lafazh riwayat Muslim disebutkan: الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan sesama manusia.”

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, inilah tanda sifat sombong yang dijelaskan dalam hadits: meremehkan kebenaran dan merendahkan sesama manusia.

Terhadap kebenaran

Ia membalas kebenaran dengan perilaku bodoh dan menolaknya.

Terhadap manusia

Ia meremehkan hak-hak orang lain dan merendahkan mereka.

Jika sifat ini ada pada diri seseorang, berarti ia seorang penyombong. Inilah yang disebutkan dalam ayat sebelumnya: “Sesungguhnya orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, tidaklah ada dalam dada mereka kecuali kesombongan (untuk tujuan) yang tidak akan mereka capai” (QS. Al-Mu’min: 56). Semua itu disebabkan sifat sombong.

“Keagungan Itu Sarung-Ku, Kebesaran Itu Pakaian-Ku”

Nabi ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَىٰ: الْعَظَمَةُ إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي فِيهِمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah berfirman: ‘Keagungan itu sarung-Ku dan kebesaran itu pakaian-Ku, maka siapa yang menyaingi-Ku pada keduanya, niscaya Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.'” (HR. Muslim)

الْمُنَازَعَةُ artinya menarik.

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits qudsi ini berkenaan dengan bahaya sifat sombong, tinggi hati, dan merasa derajatnya lebih tinggi dari orang lain. Maknanya, sifat keagungan itu laksana sarung dan kebesaran itu laksana pakaian. Sifat yang Allah sebutkan di sini adalah keagungan dan kebesaran-Nya.

Perumpamaan ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ tentang kaum Anshar: “Kaum Anshar itu laksana pakaian dalam, dan orang-orang (selain Anshar) itu laksana pakaian luar.” Maksudnya, kaum Anshar laksana pakaian dalam yang dekat dan lekat dengan seseorang, sedangkan selain mereka laksana pakaian luar. Makna seperti ini lazim diketahui dalam bahasa.

Istinbath Ibnu Taimiyah tentang takbir

Sifat yang disebutkan di sini adalah keagungan dan kebesaran. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyimpulkan suatu istinbath dari hadits ini ketika membahas takbir dalam shalat dan memulai shalat dengan bacaan takbir. Beliau mengatakan: “Lafazh takbir tidak bisa digantikan dengan lafazh lain, bahkan dengan kata yang semakna atau yang serupa.”

Misalkan seseorang mengucapkan “Allahu a’zham” (Allah Maha Agung) sebagai pengganti “Allahu akbar”. Maka iftitah shalatnya tidak terwujud dengan ucapan tersebut.

Beliau membahas masalah ini panjang lebar dan mengatakan: “Lafazh takbir itu lebih besar kondisinya daripada lafazh ta’zhim.” Memang benar, lafazh takbir lebih agung daripada lafazh ta’zhim. Beliau lalu menjadikan hadits “Keagungan itu sarung-Ku dan kebesaran itu pakaian-Ku” sebagai dalil, dan berkata: “Pakaian itu lebih tinggi daripada sarung.”

Isyarat yang lembut

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, penuturan Ibnu Taimiyah ini adalah isyarat yang sangat lembut dalam istinbath, yaitu terkait perbandingan antara kebesaran (kibriya’) dan keagungan (‘azhamah).

Perdebatan Surga dan Neraka

Nabi ﷺ bersabda:

اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ إِلَىٰ رَبِّهِمَا، فَقَالَتِ الْجَنَّةُ: يَا رَبِّ، مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسُقَّاطُهُمْ، وَقَالَتِ النَّارُ: أُوثِرْتُ بِالْجَبَّارِينَ وَالْمُتَكَبِّرِينَ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ لِلْجَنَّةِ: إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَقَالَ لِلنَّارِ: إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي

“Surga dan neraka berdebat di hadapan Rabb mereka berdua, lalu surga berkata: ‘Ya Rabb! Kenapa yang memasukiku hanya orang-orang lemah dan dipandang rendah?’ Neraka berkata: ‘Aku dikhususkan bagi orang-orang lalim dan sombong.’ Allah lalu berfirman kepada surga: ‘Engkau tidak lain adalah rahmat-Ku. Denganmu, Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki di antara hamba-Ku.’ Dan Allah berfirman kepada neraka: ‘Engkau tidak lain adalah siksa-Ku. Denganmu, Aku menyiksa siapa yang Aku kehendaki di antara hamba-Ku.'” (Muttafaq ‘alaih)

Bagian yang menjadi dalil dari hadits ini adalah perkataan neraka: أُوثِرْتُ بِالْجَبَّارِينَ وَالْمُتَكَبِّرِينَ “Aku dikhususkan untuk orang-orang lalim dan sombong.” Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sombong dan lalim termasuk penghuni neraka, bahkan mereka dikhususkan sebagai penghuninya.

Surga dan neraka benar-benar berbicara

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, perdebatan antara surga dan neraka ini nyata. Surga benar-benar berbicara dan mengucapkan: يَا رَبِّ، مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسُقَّاطُهُمْ. Neraka pun benar-benar berkata: أُوثِرْتُ بِالْجَبَّارِينَ وَالْمُتَكَبِّرِينَ. Perkataan ini diucapkan dengan lisan, bukan dengan bahasa kondisi (kiasan). Tidak boleh dikatakan bahwa perkataan ini hanya kiasan, karena itu termasuk takwil. Allah Maha Kuasa atas segala-galanya.

Bukti-bukti hal ini tercantum dalam banyak dalil:

  • Langit dan bumi berkata: قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ “Keduanya menjawab, ‘Kami tunduk dengan patuh.'” (QS. Fushshilat: 11)
  • تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tiada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka…” (QS. Al-Isra’: 44)
  • Para Sahabat pernah mendengar kerikil di tangan Nabi ﷺ mengucapkan: “Subhanallah, subhanallah.”
  • Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh, aku mengetahui sebongkah batu di Makkah yang selalu mengucapkan salam kepadaku setiap kali aku melewatinya.”
  • الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65) Pada hari Kiamat nanti, kaki dan tangan berbicara.

“Engkau tidak lain adalah rahmat-Ku”

Dalam firman Allah kepada surga إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي, lafazh rahmat adalah bentuk mashdar yang disandarkan (dimudhafkan) kepada Allah. Sebagian ulama mengatakan, mashdar yang disandarkan kepada Allah kadang yang dimaksud adalah sifat-Nya, dan kadang yang dimaksud adalah pengaruh dari sifat-Nya. Hal ini diketahui melalui rangkaian kalimatnya.

LafazhYang dimaksud dengan “rahmat”
إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي
“Engkau tidak lain adalah rahmat-Ku” (hadits ini)
Pengaruh sifat rahmat, yaitu surga.
فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ
“Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah” (QS. Ar-Rum: 50)
Sifat rahmat Allah itu sendiri, bukan pengaruh sifat.

Negeri Akhirat Bukan untuk Orang Sombong

Allah berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Allah menjadikan negeri akhirat bukan untuk orang-orang yang sombong dan angkuh terhadap sesama manusia. Ayat ini juga telah dibahas pada bab pemimpin yang zalim.

Jangan Memalingkan Wajah dan Berjalan Angkuh

Allah berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Yakni, janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia seraya berpaling lagi menyombongkan diri. الْمَرَحُ artinya menyombongkan diri.

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ayat ini mengandung dua larangan:

Memalingkan wajah تُصَعِّرْ

Jangan memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan tinggi hati. Biasanya orang sombong menampakkan kesombongannya dengan memalingkan muka dari orang yang ada di hadapannya. Sebagian ulama menjelaskan, lafazh ini berasal dari kata الصَّعَرُ, yaitu penyakit pada leher unta yang membuat lehernya miring dan berjalan sambil memiringkan leher. Inilah makna asalnya.

Berjalan angkuh مَرَحًا

Jangan angkuh dalam berjalan dan tinggi hati. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Dalam ayat lain, surah Al-Isra’, Allah berfirman:

إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“…karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”QS. Al-Isra’: 37

Andaikan orang yang angkuh lagi sombong memikirkan ayat ini, tentu ayat ini mencegahnya bersikap sombong. Sebab seperti apa pun engkau menyombongkan diri, engkau tetap tidak akan menjulang setinggi gunung yang ada di sampingmu.

Mengucapkan takbir di tempat tinggi

Karena itu disebutkan dalam sunnah, ketika seseorang mendaki tempat tinggi dan melihat dirinya berada di ketinggian, yang mungkin memunculkan perasaan sombong, ia dianjurkan mengucapkan “Allahu akbar”, agar perasaan sombong lenyap dan jiwanya tenang. Seperti apa pun ia bersikap sombong, ia tidak akan menjulang setinggi gunung. Bahkan orang yang paling jangkung di dunia pun tidak akan bisa menjulang setinggi gunung.

“…engkau tidak akan dapat menembus bumi” (QS. Al-Isra’: 37), yakni jika engkau berjalan dengan sombong, gerakan jalanmu tidak berdampak apa pun terhadap bumi, karena memangnya engkau siapa? Ini menjelaskan betapa hina dan rendahnya orang sombong.

Renungan yang mengusir kesombongan

Andaikan orang sombong mau memikirkan lingkungan sekitarnya, merenungkan bumi yang ia pijak, dan gunung di sampingnya, renungan ini sudah cukup untuk mengusir kesombongan dari dirinya dan mendatangkan sifat rendah hati. Renungan ini juga mengajak untuk berpikir, dan merupakan pintu besar untuk merendah kepada Allah serta menjauhi kesombongan.

  1. Bumi dan gunung. Perhatikan bumi yang dipijak, gunung yang mengelilingi, dan bentuk diri sendiri. Ia pasti merasa dirinya bukan apa-apa dibandingkan gunung dan bumi di sekelilingnya.
  2. Langit. Perluaslah lingkupnya, lalu bandingkan dirimu dengan langit dan bumi.
  3. Kursi. Perluas lagi, lalu renungkan Kursi yang seluas langit dan bumi.
  4. Arsy. Perluas lagi, lalu lihatlah Arsy yang agung. Kursi jika dibandingkan dengan Arsy hanyalah laksana kalung yang tergeletak di padang luas.

Jika Anda merenungkan seperti ini, tentu Anda akan mengetahui betapa kecilnya diri Anda, dan sifat sombong akan lenyap dari diri Anda. Anda hanyalah sesuatu yang amat kecil, hanya satu atom dalam sebuah kerajaan besar. Ini yang membuat Anda merendah kepada Allah, pandangan Anda terhadap diri sendiri dan rasa bangga diri akan menghilang, sehingga Anda bisa mengenali siapakah Anda!

Karena itu, orang sombong itu tidak mengenal dirinya, karena andaikan ia mengenal siapa dirinya dan mengetahui apa yang terjadi, pastilah tidak muncul sikap sombong di dalam dirinya.

“Aku Tidak Bisa”: Menolak Sunnah karena Sombong

Salamah bin Al-Akwa’ berkata:

أَكَلَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: كُلْ بِيَمِينِكَ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: لَا اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَىٰ فِيهِ بَعْدُ

“Seseorang makan dengan tangan kirinya di dekat Rasulullah ﷺ, lalu beliau berkata: ‘Makanlah dengan tangan kananmu.’ Orang itu berkata: ‘Aku tidak bisa.’ Beliau berkata: ‘Kamu tidak akan bisa (makan dengan tangan kanan).’ Tidak ada yang menghalanginya (untuk makan dengan tangan kanan) selain kesombongan. Salamah berkata: ‘Orang itu tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya setelah itu.'” (HR. Muslim)

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hadits ini menunjukkan bahaya sifat sombong, dan hal paling berbahaya bagi orang sombong adalah menolak kebenaran.

Orang yang rendah hati

Ketika suatu hukum disampaikan atau suatu persoalan dijelaskan kepadanya, ia berkata: “Saya tahu,” lalu mendengarkan penjelasan itu sembari mencela dirinya karena kerendahan hatinya.

Orang yang sombong

Jiwanya selalu cenderung menolak kebenaran. Inilah hal paling berbahaya baginya, karena ia berlaku jahat terhadap kebenaran.

Persoalan dalam hadits ini ringan dan tidak memerlukan jerih payah. Ajakan Nabi ﷺ, “Makanlah dengan tangan kananmu,” adalah ajakan yang penuh berkah, bersih, suci, sempurna, dan baik. Namun orang itu tidak mau menerima ajakan beliau karena sombong. Tidak ada yang menghalanginya selain kesombongan, maka hukumannya, Nabi ﷺ berkata: “Kamu tidak akan bisa.”

Perhatikanlah, orang yang dihalangi kesombongan untuk menerima kebenaran akan membantah dan berdebat dengan kebatilan, sebagaimana dalam QS. Al-Mu’min: 56. Orang itu berkata لَا أَسْتَطِيعُ “Aku tidak bisa,” padahal sebenarnya ia bisa. Kesombonganlah yang menjadi penghalang baginya.

Karena itu, kewajiban seorang muslim adalah menerima syariat seluruhnya dengan lapang dada. Andaikan seorang muslim menolak suatu sunnah, pasti ia menolaknya karena kesombongan di dalam dirinya, meski sedikit. Andaikan ia melenyapkan kesombongan itu dan bersikap rendah hati, pastilah ia menerima semua sunnah.

Jangan menyepelekan sunnah

Siapa pun jangan sampai menyepelekan sunnah. Sebagian orang menganggapnya persoalan mudah, lalu berkata: “Apa masalahnya jika seseorang minum dengan tangan kiri?” Banyak orang minum dengan tangan kiri ketika makan, misalnya memegang sandwich dengan tangan kanan dan jus di tangan kiri. Menurut Syaikh Abdur Razzaq, ini haram. Tidak boleh makan dengan tangan kiri, kecuali bagi orang yang benar-benar tidak bisa makan dengan tangan kanan.

Lafazh لَا أَسْتَطِيعُ “Aku tidak bisa” menunjukkan bahwa orang yang benar-benar tidak bisa makan dengan tangan kanan bisa dimaklumi karena memiliki uzur. Namun kasus dalam hadits ini berbeda, karena perawi berkata: مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ “Tidak ada yang menghalanginya selain kesombongan.” Ia tidak mau makan dengan tangan kanan bukan karena tidak bisa, melainkan karena sombong.

Golongan Sombong Penghuni Neraka

Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah aku beritahukan kalian siapakah para penghuni neraka itu? Yakni tiap orang yang congkak, angkuh, dan sombong.” (Muttafaq ‘alaih)

LafazhMaknanya
الْعُتُلُّOrang yang keras dan kasar sikapnya dalam segala hal.
الْجَوَّاظُOrang yang sombong ketika berjalan. Ulama lain mengartikannya orang yang keji.
الْمُسْتَكْبِرُOrang yang sombong.

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mereka termasuk penghuni neraka.

Umar bin Yunus Al-Yamani berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, (ia berkata): Ikrimah bin Khalid memberitakan kepada kami bahwa ia berjumpa Ibnu Umar, lalu Ibnu Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَخْتَالُ فِي مِشْيَتِهِ وَيَتَعَاظَمُ فِي نَفْسِهِ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

‘Tidaklah seseorang bersikap angkuh ketika berjalan dan merasa dirinya besar, melainkan ia akan berjumpa Allah dalam kondisi (Allah) murka kepadanya.'” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi) Hadits ini memenuhi kriteria hadits shahih yang disyaratkan Imam Muslim.

Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah:

أَوَّلُ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ: أَمِيرٌ مُسَلَّطٌ، وَغَنِيٌّ لَا يُؤَدِّي الزَّكَاةَ، وَفَقِيرٌ فَخُورٌ

“Tiga orang pertama yang masuk neraka adalah penguasa yang kejam, orang kaya yang tidak menunaikan zakat, dan orang fakir yang angkuh.” (HR. Ahmad)

Lihat juga pembahasan hadits tiga orang pertama yang masuk neraka pada bab tidak membayar zakat.

Kesombongan yang Paling Buruk: Sombong dengan Ilmu

Imam Adz-Dzahabi berkata: Kesombongan yang paling buruk adalah kesombongan orang yang menyombongkan diri di hadapan para hamba Allah dengan ilmu yang ia miliki, dan merasa dirinya besar karena keutamaan yang ia miliki, karena orang seperti ini tidak akan bermanfaat ilmunya.

Orang yang menuntut ilmu demi tujuan akhirat pasti dituntun oleh ilmunya untuk rendah diri dan mawas diri, sehingga ia tidak pernah lelah untuk mawas diri. Bahkan ia mengevaluasi dirinya setiap saat dan membekalinya dengan ilmu. Jika ia melalaikan dirinya, dirinya akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan membinasakannya.

Sebaliknya, siapa yang menuntut ilmu demi kebanggaan diri, mencari jabatan, bersikap masa bodoh terhadap manusia, dan merendahkan mereka, maka perilaku seperti ini termasuk salah satu dosa besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski seberat zarrah sekalipun.

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, di bagian penutup dosa besar ini Imam Adz-Dzahabi mengingatkan bahwa kesombongan yang paling buruk adalah kesombongan orang yang menyombongkan diri terhadap hamba-hamba Allah dengan ilmu yang ia miliki. Padahal seharusnya ilmulah yang menuntun dan menunjukkan kepada sikap rendah hati, karena dengan ilmu kadar dan keutamaan sifat rendah hati bisa diketahui.

Manusia yang paling jahat

Karena itu, jika seseorang justru menyombongkan diri dengan ilmu, padahal ilmu itu selayaknya digunakan untuk mengetahui sifat rendah hati dan bahaya sifat sombong, berarti ia adalah manusia yang paling jahat.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

  1. Sombong, bangga diri, angkuh, ujub, dan congkak memiliki makna yang senada, dan termasuk dosa besar yang paling buruk dan mengerikan.
  2. Kesombongan mendorong seseorang mengingkari fakta, meremehkan orang lain, menolak kebenaran, dan membantah ayat-ayat Allah tanpa dalil. Mintalah perlindungan kepada Allah darinya.
  3. Kesombongan seberat zarrah pun menghalangi dari surga. Orang sombong dibalas setimpal: direndahkan, dibenamkan ke bumi, dan dikumpulkan bagaikan semut yang diinjak-injak.
  4. Dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah adalah kesombongan Iblis. Siapa yang sombong berarti menyerupai Iblis.
  5. Hakikat sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
  6. Keagungan dan kebesaran adalah milik Allah. Siapa yang menyaingi-Nya dilemparkan ke neraka.
  7. Surga dan neraka benar-benar berbicara, bukan kiasan. Neraka dikhususkan bagi orang-orang lalim dan sombong.
  8. Jangan memalingkan wajah dan berjalan angkuh. Renungkan kecilnya diri dibandingkan bumi, gunung, langit, Kursi, dan Arsy.
  9. Menolak sunnah, walau tampak ringan seperti makan dengan tangan kanan, bisa bersumber dari kesombongan. Terimalah syariat dengan lapang dada.
  10. Kesombongan yang paling buruk adalah sombong dengan ilmu; ilmu seharusnya menuntun kepada rendah hati.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan walau seberat zarrah, menjadikan ilmu yang kita pelajari menuntun kita kepada rendah hati, dan memudahkan kita menerima kebenaran dengan lapang dada. Aamiin.

Rujukan: Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, Al-Kabair, syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Edisi terjemahan 77 Dosa Besar, bab “Dosa Besar Ke-15: Sombong, Bangga Diri, Angkuh, Ujub, dan Congkak”, hlm. 232–246.

Seluruh ayat dan hadits dikutip sebagaimana dibawakan dalam kitab tersebut.

Catatan: Tulisan ini hanya ringkasan. Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan pemahaman yang lebih utuh, bacalah langsung kitabnya.

Lihat daftar lengkap 77 dosa besar (Al-Kabair) →