Al Kabair 1: Dosa Syirik

Dosa Besar Ke-1

الشِّرْكُ بِاللهِ

Menyekutukan Allah (Syirik)

Kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah
Syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah

Halaman 1 dari 5

Daftar Isi
  1. Mengapa syirik disebut paling awal?
  2. Apa itu syirik?
  3. Syirik, puncak kezaliman
  4. Empat bahaya syirik
  5. Pintu taubat dari syirik tetap terbuka
  6. Bagaimana dengan ahli tauhid yang berdosa besar?
  7. Syirik di urutan terdepan dosa-dosa besar
  8. Pelajaran yang bisa dipetik

Syirik adalah dosa besar pertama dari 77 dosa besar yang disebut Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair, sekaligus dosa yang paling besar dan paling berbahaya. Tulisan ini merangkum pembahasannya dari syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

الكَبِيرَةُ الأُولَى: الشِّرْكُ بِاللهِ تَعَالَى

“Dosa besar yang pertama, yaitu menyekutukan Allah Ta’ala.”

Mengapa Syirik Disebut Paling Awal?

Imam Adz-Dzahabi mendahulukan syirik karena mengikuti metode Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketika menyebut perintah, keduanya mendahulukan perintah yang paling agung, yaitu tauhid. Ketika menyebut larangan, keduanya mendahulukan larangan yang paling berbahaya, yaitu syirik.

Metode ini tampak dalam banyak ayat, di antaranya:

  • QS. Al-Furqan: 68: “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina…”
  • QS. Al-An’am: 151: “Katakanlah: Kemarilah! Aku akan membacakan apa yang diharamkan Rabbmu kepadamu, yaitu janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”
  • QS. Al-Isra’: 22–23: “Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain bersama Allah, nanti engkau menjadi tercela lagi terhina. Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…” Pada ayat-ayat sesudahnya, Allah menyebut 18 perintah dan larangan, dan semuanya dibuka dengan tauhid.

Tauhid didahulukan karena ia ketaatan yang paling agung, paling baik, dan paling luhur, sekaligus asas seluruh ketaatan. Demikian pula dua hadits tentang dosa besar yang dibawakan Imam Adz-Dzahabi: keduanya menyebut syirik paling awal.

Apa Itu Syirik?

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam salah satu kekhususan-Nya. Imam Adz-Dzahabi mendefinisikannya dengan lafazh yang diambil dari hadits:

“Syirik adalah Anda menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakan Anda, namun Anda menyembah sesuatu yang lain bersama-Nya. Seperti batu, manusia, matahari, bulan, nabi, syaikh, jin, bintang, malaikat, atau yang lainnya.”

Tiga macam syirik

Sebagaimana tauhid terbagi tiga, syirik pun terbagi tiga, sesuai kekhususan Allah yang diberikan kepada selain-Nya:

Jenis syirikArtinya
Syirik dalam rububiyyahMemberikan kekhususan Allah dalam rububiyyah-Nya (mencipta, memiliki, mengatur) kepada selain Allah
Syirik dalam al-asma’ wash shifatMemberikan kekhususan nama-nama dan sifat-sifat Allah kepada selain Allah
Syirik dalam uluhiyyahMempersembahkan ibadah, yang merupakan hak Allah semata, kepada selain Allah

Tiga ungkapan Al-Qur’an tentang hakikat syirik

  1. Menyamakan. Penghuni neraka mengakui:

    تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ۝ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

    “Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Rabb semesta alam.”QS. Asy-Syu’ara’: 97–98

    Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam kekhususan-Nya adalah syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
  2. Membandingkan. “…Sungguhpun demikian, orang-orang kafir mempersamakan tuhan mereka (dengan sesuatu yang lain).” (QS. Al-An’am: 1). Artinya, mereka menjadikan selain Allah setara dan sebanding dengan-Nya.
  3. Mengadakan tandingan.

    فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”QS. Al-Baqarah: 22

Syirik, Puncak Kezaliman

Syirik disebut kezaliman yang paling besar karena meletakkan ibadah bukan pada tempatnya. Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sungguh, mempersekutukan Allah itu benar-benar kezaliman yang besar.”QS. Luqman: 13

Zalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Tempat ibadah adalah dipersembahkan hanya kepada Allah, dimurnikan untuk-Nya, dengan tulus semata-mata bagi-Nya. Maka ketika ibadah dipersembahkan kepada nabi, malaikat, pohon, batu, atau selainnya, itulah puncak kezaliman.

Semua yang disembah selain Allah adalah makhluk. Bagaimana mungkin makhluk yang tercipta dari tanah, penuh kekurangan, fakir, dan lemah, disamakan dengan Rabb semesta alam Yang Mahakaya dan Mahaagung?

Perhatikan pula ungkapan Imam Adz-Dzahabi: “padahal Dialah yang telah menciptakan Anda.” Allah sendiri yang mewujudkan manusia dari ketiadaan. Lalu manusia menyeru selain-Nya, mempersembahkan ibadah, ketaatan, dan permintaan segala hajat kepada selain Rabb yang menciptakannya. Inilah perbuatan yang paling buruk. Karena itu Allah berfirman: “Dan Akulah Rabbmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 92). Maknanya: Akulah satu-satunya yang mencipta dan mengadakan, maka ikhlaskanlah ibadah hanya untuk-Ku.

Empat Bahaya Syirik

Syirik membawa empat akibat yang tidak dimiliki dosa lain, menurut ayat-ayat yang dibawakan Syaikh Abdur Razzaq.

1Tidak diampuni jika pelakunya mati di atasnya

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya, tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”QS. An-Nisa’: 48 dan 116

2Menggugurkan seluruh amal

Allah tidak menerima amalan orang musyrik, sebanyak apa pun amalnya.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) sebelummu: Jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. Karena itu, sembahlah Allah saja dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”QS. Az-Zumar: 65–66

3Diharamkan surga dan kekal di neraka

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.”QS. Al-Ma’idah: 72

4Azabnya tidak diringankan, bahkan terus ditambah

Pelakunya tidak dimatikan sehingga bisa lepas dari azab, dan azabnya tidak diringankan (QS. Fathir: 36–37). Allah juga berfirman:

فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

“Maka rasakanlah! Tidak akan Kami tambahkan kepadamu selain azab.”QS. An-Naba’: 30

Al-Allamah As-Sa’di rahimahullah menyebut ayat ini sebagai ayat terberat bagi penghuni neraka dari kalangan orang kafir. Mereka berharap dimatikan, diringankan, atau dikeluarkan dari neraka. Jawabannya: tidak ada kematian, dan siksaan terus ditambah.

Pintu Taubat dari Syirik Tetap Terbuka

Dosa syirik tidak diampuni hanya bagi orang yang mati dalam keadaan musyrik. Orang musyrik yang bertaubat sebelum wafat, Allah pasti menerima taubatnya. Betapa banyak orang musyrik dan kafir yang menerima dakwah para nabi, lalu Allah menerima taubat mereka.

Sekilas, dua ayat ini tampak bertentangan:

QS. An-Nisa’: 48QS. Az-Zumar: 53
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya…”إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Berlaku bagi orang yang mati dalam keadaan musyrik dan tidak sempat bertaubatBerlaku bagi orang yang bertaubat sebelum wafat, termasuk dari dosa syirik

Maka bertaubatlah kepada Allah. Tidak ada satu dosa pun yang terlalu berat bagi-Nya untuk diampuni. Sebesar apa pun dosanya, ketika pelakunya bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah menerima taubatnya.

“Karenanya, siapa yang menyekutukan Allah dan mati dalam kondisi musyrik, dipastikan termasuk salah satu di antara penghuni neraka.”

Kalimat “dan mati dalam kondisi musyrik” adalah batasan. Siapa yang berbuat syirik lalu bertaubat dan wafat sebagai ahli tauhid, ia termasuk ahli taubat yang diterima taubatnya.

Bagaimana dengan Ahli Tauhid yang Berdosa Besar?

Ahli tauhid yang wafat tanpa syirik dipastikan masuk surga, meski bisa jadi diazab lebih dulu karena dosa-dosa besarnya.

“Sebagaimana orang yang beriman kepada Allah dan meninggal dalam kondisi sebagai mukmin, maka ia termasuk penghuni surga, meski mungkin ia disiksa terlebih dahulu karena dosa-dosa selain syirik yang pernah ia lakukan.”

مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang meninggal dalam kondisi tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia masuk surga.”HR. Al-Bukhari dan Muslim

Dosa besar selain syirik: di bawah kehendak Allah

Bagian ini khusus tentang ahli tauhid, yaitu orang yang wafat tanpa syirik, namun membawa dosa besar selain syirik dan belum bertaubat darinya. Ia dikhawatirkan terkena ancaman dosa tersebut, dan nasibnya tidak bisa dipastikan: jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya; jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya. Namun, jika diazab, ia tidak kekal di neraka. Inilah makna firman Allah “…tetapi Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. An-Nisa’: 48).

Adapun orang yang mati dalam keadaan musyrik tidak termasuk di sini. Dosa syiriknya tidak diampuni dan ia kekal di neraka, sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Apa maksud “di bawah kehendak Allah”?

Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, termasuk masuknya seseorang ke surga. Ungkapan “di bawah kehendak Allah” di sini maksudnya Allah tidak mengabarkan kepastian nasib orang tersebut: bisa diampuni, bisa juga diazab. Berbeda dengan dua keadaan lain yang nasibnya telah Allah kabarkan dengan pasti.

Keadaan saat wafatNasibnya
Musyrik, tidak bertaubat dari syiriknyaTelah dikabarkan pasti: tidak diampuni dan kekal di neraka (QS. An-Nisa’: 48).
Ahli tauhid yang menunaikan kewajiban dan meninggalkan keharamanTelah dikabarkan pasti: masuk surga tanpa azab, seperti golongan muqtashid dan sabiqun bil khairat dalam QS. Fathir: 32–33 di bawah.
Ahli tauhid yang membawa dosa besar selain syirik tanpa bertaubatDi bawah kehendak Allah: bisa diampuni, bisa diazab. Jika diazab, ia tidak kekal di neraka dan akhirnya masuk surga.

Ahli tauhid pelaku dosa besar yang diazab akan keluar dari neraka secara bergelombang sesuai tingkatan dosa mereka. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa api neraka mematikan mereka untuk beberapa waktu, lalu mereka dikeluarkan berbondong-bondong dan dimasukkan ke sungai, lalu tumbuh kembali “sebagaimana biji-bijian tumbuh di tanah yang terbawa aliran air.” (Disebutkan Syaikh Abdur Razzaq dari Ash-Shahihain)

Tiga golongan dalam QS. Fathir: 32–33

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah… (Balasan mereka adalah) surga ‘Adn yang mereka masuki…”QS. Fathir: 32–33

GolonganCiriCara masuk surga
Sabiqun bil khairat
(lebih dahulu berbuat kebaikan)
Menunaikan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan juga menjaga amalan anjuran (sunnah)Langsung, tanpa hisab dan tanpa azab
Muqtashid
(pertengahan)
Menunaikan kewajiban dan meninggalkan keharamanLangsung, tanpa hisab dan tanpa azab
Zhalimun li nafsihi
(menzalimi diri sendiri)
Melakukan dosa-dosa besar selain syirikMasuk surga, tetapi bisa jadi melalui fase azab lebih dulu
Sama cara masuknya, bukan berarti sama kedudukannya

Tabel ini hanya membandingkan cara masuk surga, yaitu dengan atau tanpa hisab dan azab, sebagaimana dijelaskan dalam kitab. Golongan pertengahan dan golongan yang lebih dahulu berbuat kebaikan memang sama-sama masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Namun, itu tidak berarti kedudukan keduanya sama. Allah sendiri menyebut golongan ketiga sebagai yang lebih dahulu berbuat kebaikan: selain menunaikan kewajiban dan meninggalkan keharaman, mereka juga menjaga amalan anjuran. Kitab pada bagian ini tidak merinci perbedaan kedudukan mereka di surga.

Al-Allamah Asy-Syanqithi rahimahullah selalu berhenti merenungkan huruf wawu jamak pada kata يَدْخُلُونَهَا (“mereka memasukinya”). Huruf itu mencakup ketiga golongan, termasuk yang menzalimi diri sendiri.

Kata “zalim” dalam Al-Qur’an punya dua makna. Kadang berarti maksiat selain syirik, seperti dalam ayat ini. Kadang berarti syirik dan kekafiran, seperti “Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim” (QS. Al-Baqarah: 254). Karena itu, setelah menyebut tiga golongan tadi, Allah beralih menyebut golongan lain: orang-orang kafir yang kekal di neraka (QS. Fathir: 36–37).

Neraka sebagai penyucian bagi ahli tauhid

Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa mengucapkan ‘La ilaha illallah’, ia masuk surga, baik ia tertimpa (siksa) sebelumnya ataupun tidak.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

Masuknya ahli tauhid yang bermaksiat ke neraka adalah untuk menyucikan dan membersihkan jiwa mereka. Sebab surga adalah negeri yang murni dan baik, sebagaimana penghuninya disambut dengan ucapan thibtum (“kalian telah baik”), “maka masuklah ke dalamnya untuk selama-lamanya” (QS. Az-Zumar: 73).

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Allah memberi sarana penyucian diri di dunia: kebaikan yang menghapus keburukan, taubat yang semurni-murninya, dan musibah yang menjadi penebus dosa. Siapa yang tidak menyucikan diri dengannya di dunia akan disucikan di neraka Jahanam pada hari kiamat.

“Negeri itu ada tiga: negeri yang murni baik, negeri yang murni kotor, dan negeri yang baik namun tercampur kotoran, yaitu neraka bagi para pendurhaka dari kalangan ahli tauhid.”Ibnul Qayyim, Al-Wabil Ash-Shayyib

Setelah semua ahli tauhid keluar, tidak tersisa di neraka selain penghuni aslinya: orang-orang kafir dan musyrik.

Faidah Penting

Tauhid dan iman adalah sebab masuk surga. Siapa yang menyempurnakan tauhid dan iman yang wajib, ia masuk surga secara langsung tanpa diazab. Adapun yang bertauhid, ikhlas, dan jauh dari syirik namun melakukan sejumlah maksiat, ia juga masuk surga, tetapi bisa jadi melalui fase azab terlebih dahulu.

Syirik di Urutan Terdepan Dosa-Dosa Besar

Dua hadits yang dibawakan Imam Adz-Dzahabi sama-sama menempatkan syirik di urutan pertama.

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau sebelumnya bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda: “Ketahuilah, juga perkataan dusta. Ketahuilah, juga kesaksian palsu.” Beliau terus mengulang-ulangnya sampai kami berkata: “Semoga beliau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits kedua adalah sabda Nabi ﷺ: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan…” Yang pertama beliau sebut adalah menyekutukan Allah.

Nama-nama lain dosa besar

  • Al-Mubiqat: yang membinasakan, karena membinasakan pelakunya.
  • Al-Muqhimat: yang menjerumuskan, karena menjerumuskan pelakunya ke dalam azab.
  • Al-Kaba’ir dan Al-‘Azha’im: dosa-dosa besar dan agung.

Syaikh Abdur Razzaq juga mengingatkan bahwa murtad, yaitu meninggalkan agama tauhid lalu beralih kepada kesyirikan dan pendustaan, termasuk dosa besar yang menjadikan pelakunya kafir. Beliau merujuk hadits riwayat Al-Bukhari tentang orang yang mengganti agamanya.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

  1. Tauhid adalah perintah paling agung dan syirik adalah larangan paling berbahaya, sehingga keduanya selalu disebut paling awal.
  2. Syirik berarti menyamakan makhluk dengan Allah dalam rububiyyah, nama dan sifat, atau ibadah.
  3. Syirik adalah puncak kezaliman karena ibadah diberikan kepada makhluk yang lemah, bukan kepada Allah yang menciptakan.
  4. Syirik menggugurkan seluruh amal, mengharamkan surga, dan menyebabkan kekal di neraka bagi yang mati di atasnya.
  5. Pintu taubat tetap terbuka bagi pelaku syirik selama nyawa belum sampai di kerongkongan.
  6. Ahli tauhid yang berdosa besar berada di bawah kehendak Allah. Jika diazab, ia tidak kekal di neraka.
  7. Bersihkan diri di dunia dengan taubat, amal saleh, dan sabar atas musibah, sebelum dibersihkan di neraka.

Semoga Allah menjaga kita dan keluarga kita dari syirik, yang besar maupun yang kecil, dan mewafatkan kita di atas tauhid. Aamiin.

Rujukan: Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, Al-Kabair, syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Edisi terjemahan 77 Dosa Besar, bab “Dosa Besar Ke-1: Menyekutukan Allah”, hlm. 35–49.

Ayat dan hadits dikutip sebagaimana dibawakan dalam kitab tersebut.

Catatan: Tulisan ini hanya ringkasan. Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan pemahaman yang lebih utuh, bacalah langsung kitabnya.