Dosa Sihir

السِّحْرُ

Sihir

Dosa besar ke-3 dalam kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi
Syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

Halaman 1 dari 7

Isi artikel
  1. Kedudukan sihir di antara dosa besar
  2. Tujuh dalil kafirnya tukang sihir
  3. Pintu masuk sihir
  4. Wujud dan cara kerja sihir
  5. Hukuman dan kerugian tukang sihir
  6. Mendatangi tukang sihir, jimat, dan pelet
  7. Uzur bagi yang tidak tahu, dan pelajaran

Bagian 1 dari 7

Kedudukan sihir di antara dosa besar

Sihir adalah dosa besar ketiga dari 77 dosa besar yang disebut Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair, setelah syirik dan membunuh. Sihir termasuk dosa besar karena tukang sihir pasti kufur. Tulisan ini merangkum syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Matan

الْكَبِيرَةُ الثَّالِثَةُ: السِّحْرُ

“Dosa besar yang ketiga, sihir. (Sihir termasuk dosa besar), karena tukang sihir itu pastilah kufur.”

Mengapa sihir lebih berbahaya daripada membunuh?

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, jika dosa-dosa besar diurutkan dari sisi bahayanya, sihir semestinya didahulukan sebelum membunuh. Sebab sihir adalah kekufuran: tukang sihir tidak mungkin melakukan sihir kecuali dengan kufur kepada Allah.

Urutan ini sesuai dengan salah satu riwayat hadits tujuh perkara yang membinasakan, yang menyebut sihir sebelum membunuh:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ، قَالُوا: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Para Sahabat bertanya: “Apa sajakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk dibunuh) kecuali dengan alasan yang benar…”HR. Al-Bukhari dan Muslim

Tukang sihir pasti kufur

Seseorang tidak mungkin menjadi tukang sihir kecuali dengan kufur kepada Allah. Bahkan kekuatan sihirnya ditentukan oleh kekuatan kekafirannya: semakin kufur kepada Allah, semakin kuat sihirnya. Sihir hanya didapat dengan kufur kepada Allah, mendekatkan diri kepada syaitan, serta menyembah dan menaati syaitan.

Dalil yang dibawakan Imam Adz-Dzahabi adalah firman Allah:

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“…tetapi syaitan-syaitan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”QS. Al-Baqarah: 102

Tujuan syaitan mengajarkan sihir kepada manusia hanyalah agar manusia menyekutukan Allah. Tentang Harut dan Marut, Allah berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ … وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“…Padahal, keduanya (malaikat Harut dan Marut) tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu), oleh sebab itu janganlah kufur!’ Maka, mereka mempelajari dari keduanya apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya… Sungguh, mereka benar-benar sudah mengetahui bahwa siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat…”QS. Al-Baqarah: 102

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, Imam Adz-Dzahabi cukup mengisyaratkan tiga penggalan ayat ini: “syaitan-syaitan itulah yang kufur”, “janganlah kufur”, dan “tidak akan mendapat keuntungan di akhirat”. Ketiganya menunjukkan kafirnya tukang sihir.

Bagian 2 dari 7

Tujuh dalil kafirnya tukang sihir

Jika rangkaian QS. Al-Baqarah: 101–103 direnungkan seutuhnya, Syaikh Abdur Razzaq menyebutkan ada tujuh sisi yang menunjukkan kafirnya tukang sihir.

  1. Mencampakkan Kitabullah

    نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

    “…sebagian orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitabullah itu ke belakang punggung (tidak menggubrisnya) seakan-akan mereka tidak tahu.” QS. Al-Baqarah: 101

    Sihir hanya terwujud dengan mencampakkan dan melecehkan Al-Qur’an. Tukang sihir mendekatkan diri kepada syaitan dengan membuang Al-Qur’an, meletakkan kotoran di atasnya, menaruhnya di WC, dan cara serupa. Semakin parah pelecehannya, semakin dekat ia kepada syaitan.

  2. Mengikuti syaitan

    وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ

    “Mereka mengikuti apa yang dibaca syaitan-syaitan pada masa Kerajaan Sulaiman.” QS. Al-Baqarah: 102

    Setelah mencampakkan Al-Qur’an, langkah berikutnya adalah mengikuti syaitan. Ini bentuk penyembahan dan ketaatan kepada syaitan, bukan kepada Allah, dan itu kekufuran.

  3. Nabi Sulaiman tidak kufur

    وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ

    “Sulaiman itu tidak kufur.” QS. Al-Baqarah: 102

    Penafian kekufuran dari Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menunjukkan beliau bebas dari sihir dan kekafiran, sekaligus menunjukkan batilnya sihir dan kafirnya tukang sihir.

  4. Syaitan yang kufur mengajarkan sihir

    وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

    “…tetapi syaitan-syaitan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” QS. Al-Baqarah: 102

    Tukang sihir berguru kepada syaitan; ia murid syaitan. Perilaku seperti ini adalah kekufuran.

  5. Peringatan Harut dan Marut

    إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

    “Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu), oleh sebab itu janganlah kufur!” QS. Al-Baqarah: 102

    Ayat ini secara nash menunjukkan bahwa mempelajari sihir adalah kekafiran: janganlah engkau kufur dengan mempelajari sihir.

  6. Tidak punya bagian di akhirat

    وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

    “…siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.” QS. Al-Baqarah: 102

    Al-khalaq artinya bagian. Tukang sihir tidak memiliki bagian apa pun pada hari Kiamat, dan ini menunjukkan ia kafir.

  7. Seandainya mereka beriman

    وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

    “Seandainya saja mereka benar-benar beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, seandainya mereka mengetahuinya.” QS. Al-Baqarah: 103

    Ayat ini menunjukkan tukang sihir bukan orang mukmin, tetapi orang kafir. Seandainya mereka meninggalkan sihir dan kekafiran lalu beriman dan bertakwa, balasan dari Allah tentu lebih baik.

Bagian 3 dari 7

Pintu masuk sihir

Menganggap sihir hanya haram

Matan

“Banyak sekali orang-orang sesat mempelajari ilmu sihir, dan mereka mengira sihir hanya sebatas haram. Mereka tidak menyadari bahwa sihir itu kekufuran.”

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, inilah salah satu pintu masuknya sihir: orang mengira sihir hanya haram, tidak sampai membuat kafir. Padahal sihir adalah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Syaitan menggiring seseorang turun selangkah demi selangkah hingga meremehkan sihir:

  1. Ia bertanya-tanya, apakah sihir dosa besar atau dosa kecil?
  2. Lalu, apakah status sihir sebagai dosa besar sudah disepakati ulama, atau belum ada ijma’?
  3. Lalu, apakah sihir dosa besar yang sangat besar, atau yang tingkatannya di bawah itu?
  4. Lalu ia menganggap sihir memang dosa besar, tetapi bukan syirik dan kufur.
  5. Lalu ia menganggap sihir memang kufur, tetapi bukan kufur yang mengeluarkan dari Islam.

Akhirnya ia menipu diri sendiri dengan menganggap sihir perkara remeh.

Semua anggapan ini adalah mengikuti langkah syaitan. Karena itu banyak orang terjerumus ke dalam dosa besar padahal tahu itu dosa besar. Mereka terkena talbis iblis, yaitu tipu daya syaitan, hingga punya keinginan dan kecenderungan untuk melakukannya.

As-simya’: sihir berupa ilusi

Matan

“Karenanya, mereka mempelajari as-simya’ dan fungsinya. Padahal, praktik ini murni sihir.”

As-simya’ adalah kata bahasa Ajam, bukan bahasa Arab. Artinya melakukan hal-hal berupa kamuflase dan halusinasi, yaitu menciptakan gambaran ilusi yang tidak nyata. As-simya’ dan semacamnya adalah langkah awal untuk menguasai sihir.

Syaikh Abdur Razzaq menyebutkan, mungkin di zaman sekarang as-simya’ disebut teknik kecepatan gerakan tangan, atraksi magic, atau permainan sulap.

  • Pertunjukan seperti melayang di udara tanpa berpegangan, duduk di udara, atau terangkat dari tanah setinggi satu atau dua meter adalah sihir dari syaitan. Syaitanlah yang mengangkatnya, meski pelakunya bersumpah bukan tukang sihir.
  • Hal aneh seperti itu wajar terjadi, karena pelakunya mengikuti, menaati, dan menyembah syaitan.
  • Di kalangan awam, mereka menutupi kebohongannya dengan istilah “kecepatan tangan” atau “kemahiran gerakan”. Padahal semua itu sihir, amalan syaitan, dan bentuk kerja sama syaitan dengan mereka.

Hal ini juga menunjukkan bahwa bidang dan cara mempelajari sihir itu banyak, tetapi semuanya bermuara pada satu hal yang diisyaratkan dalam ayat: “Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa Kerajaan Sulaiman.” (QS. Al-Baqarah: 102). Mengikuti langkah dan perintah syaitan adalah pintu masuk sihir.

Kisah orang yang hampir belajar sihir

Diceritakan Syaikh Abdur Razzaq

Seseorang mendatangi tetangganya yang seorang tukang sihir dan meminta diajari agar punya kemampuan seperti dia. Tukang sihir itu memberinya sejumlah syarat yang harus dikerjakan tanpa kurang sedikit pun. Ia disuruh berdiri di tepi sungai menghadap matahari menjelang terbenam, waktu ketika matahari terbenam di antara dua tanduk syaitan. Di sana ia harus memanggil beberapa nama yang ternyata nama-nama syaitan. Akan muncul hewan menakutkan dari dalam sungai, dan semua permintaannya harus dituruti.

Keesokan harinya ia melakukannya. Benar saja, seekor hewan menakutkan muncul dari tengah sungai, mendekat, lalu memanggil namanya. Permintaan pertamanya: “Tinggalkanlah shalat.” Padahal shalat adalah amalan yang ia jaga sejak kecil. Allah memberinya taufik, dan ia langsung menjawab: “Meninggalkan shalat? Tidak. Saya tidak akan meninggalkan shalat.” Hewan itu berteriak kencang, lalu menyelam ke dalam sungai dan menghilang.

Beberapa hari kemudian, tetangganya marah besar: “Kau telah menyakiti dan menipu saya.” Ia marah karena telah mengirim orang yang tidak sejalan dengannya, sehingga utusannya itu justru menyakiti dirinya.

Pelajaran dari kisah ini

Sihir hanya bisa dilakukan dengan cara seperti ini. Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga ada kisah panjang yang mirip. Mendekatkan diri kepada syaitan dengan cara-cara berikut adalah pintu masuk dan sebab sihir:

  • mencampakkan Al-Qur’an
  • meninggalkan shalat
  • mengerjakan perbuatan buruk dan keji
  • menyembelih hewan untuk selain Allah
  • mengerjakan ibadah dan dzikir yang diharamkan, sambil meninggalkan Al-Qur’an dan dzikir yang disyariatkan

Bagian 4 dari 7

Wujud dan cara kerja sihir

Sihir ada yang ilusi dan ada yang nyata

Imam Adz-Dzahabi menegaskan bahwa sebagian sihir itu nyata. Tidak semua sihir ilusi, meski sebagian memang murni ilusi, seperti yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ

“…(Tiba-tiba tali-temali dan tongkat-tongkat mereka) terbayang oleh Musa seakan-akan ia (ular-ular itu) merayap cepat karena sihir mereka.”QS. Thaha: 66

Benda-benda itu tidak berubah; hanya ilusi. Namun ada pula sihir yang nyata, yang bisa membuat orang sakit, membunuh, memisahkan suami-istri, dan semacamnya. Termasuk sihir yang membahayakan fisik: menimbulkan penyakit kronis, cacat, bahkan kematian.

Matan

“Mereka juga mempelajari pengasihan yang mengikat jalinan kasih antara suami dengan istrinya. Praktik ini juga termasuk sihir. Mereka juga mempelajari rasa cinta dan benci suami dengan istrinya, dan praktik-praktik serupa lainnya yang berupa susunan kata yang tak dipahami maknanya, yang sebagian besarnya merupakan kesyirikan dan kesesatan.”

Di kalangan ulama, kedua praktik ini punya nama khusus. Keduanya nyata dan bersumber dari sihir.

‘Athaf (pengasihan)

Dalam perkataan Imam Adz-Dzahabi: jalinan kasih antara suami dan istri.

Sharf (pengalihan)

Dalam perkataan Imam Adz-Dzahabi: kebencian antara suami dan istri.

Ketika melakukan sihir, tukang sihir lebih dulu mengucapkan kata-kata dan mantra yang tidak dipahami maknanya. Kadang ia menyebut ayat-ayat Al-Qur’an untuk merendahkannya dan mencampurnya dengan kebatilan, lalu mendekatkan diri kepada syaitan dengan kalimat-kalimat Allah yang dicampur kesyirikan.

Cara tukang sihir melecehkan Al-Qur’an

Syaikh Abdur Razzaq mengungkap beberapa kebiasaan tukang sihir agar kaum muslimin waspada:

  • Menyalahgunakan ayat Kursi. Ia menulis ayat Kursi di selembar kertas, lalu menambahkan nama-nama syaitan, mantra, salib, atau sedikit kotoran yang tak terlihat mata. Kertas itu diberikan kepada pasien dengan pesan: “Gantunglah benda ini, atau letakkan di tempat ini dan ini.”
  • Bekerja dalam gelap. Sihir umumnya dilakukan malam hari, di tengah kegelapan dan tempat tersembunyi agar tidak terlihat orang. Jika terpaksa siang hari, dilakukan di ruangan yang gelap dan tertutup.
  • Menyamarkan dengan asap. Ia membakar kemenyan atau dupa hingga asap memenuhi ruangan. Saat itulah ia melakukan sihirnya dan melecehkan Al-Qur’an dengan melumurinya kotoran. Orang yang punya sedikit iman pasti lari jika melihatnya.

Ayat-ayat Al-Qur’an memang ada dalam ucapan tukang sihir, tetapi ia mengucapkannya untuk melecehkan dan mencampurnya dengan kebatilan. Ia menulis ayat Al-Qur’an dengan tangannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melainkan untuk melecehkan Al-Qur’an demi mendekatkan diri kepada syaitan. Karena itu, sebagian besar ucapannya adalah kesyirikan dan kesesatan.

Bagian 5 dari 7

Hukuman dan kerugian tukang sihir

Matan

“Hukum hadd orang yang melakukan praktik sihir adalah dibunuh. Karena sihir itu kekufuran terhadap Allah, atau menyerupai kekufuran. Nabi ﷺ bersabda: ‘Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan…’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim), lalu beliau menyebutkan di antaranya sihir. Karena itu, hendaklah seorang hamba takut kepada Rabbnya, dan tidak memasuki sesuatu yang akan menyebabkan kerugian dunia dan akhiratnya.”

Imam Adz-Dzahabi membawakan riwayat:

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

“Hukuman bagi tukang sihir yaitu dipenggal kepalanya dengan pedang.”HR. At-Tirmidzi

Namun menurut Imam Adz-Dzahabi, yang shahih ini adalah perkataan Jundub radhiyallahu ‘anhu, bukan sabda Nabi ﷺ (sanadnya tidak tersambung sampai Nabi). Atsar Sahabat lainnya:

  • Bajalah bin Abadah berkata: “Kami menerima surat dari Umar radhiyallahu ‘anhu tepat satu tahun sebelum beliau wafat, yang berisi: أَنِ اقْتُلُوا كُلَّ سَاحِرٍ وَسَاحِرَةٍ ‘Bunuhlah setiap tukang sihir lelaki dan tukang sihir wanita.'” (HR. Ahmad)
  • Diriwayatkan dari Hafshah radhiyallahu ‘anha bahwa ia memerintahkan agar tukang sihir perempuan yang menyihirnya dibunuh.

Semua atsar ini juga disebutkan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid, bab “Ma Ja-a fis Sihr”. Kewajiban seorang muslim yang mengetahui adanya tukang sihir adalah melaporkannya kepada pihak yang berwenang, sebagaimana dijelaskan di bagian 6.

Makna “tidak ada taubat bagi tukang sihir”

Tukang sihir yang tertangkap basah melakukan sihir langsung dikenai hukuman tanpa diminta bertaubat lebih dulu. Inilah makna perkataan ulama: “Tukang sihir dibunuh tanpa diminta bertaubat” dan “Tidak ada taubat bagi tukang sihir.”

Maksudnya bukan Allah tidak menerima taubatnya. Allah menerima taubat siapa pun, sebesar apa pun dosanya. Yang dimaksud adalah dalam urusan dengan sesama manusia: pengakuan taubatnya tidak menggugurkan hukuman. Jika ia tertangkap lalu berkata “Saya sudah bertaubat”, kemudian dikenai hukuman, dan taubatnya memang benar, Allah menerima taubatnya.

“Atau menyerupai kekufuran”

Menurut Syaikh Abdur Razzaq, kalimat “atau menyerupai kekufuran” dalam matan sebenarnya tidak diperlukan. Kalimat sebelumnya sudah jelas, dan dalil-dalil yang dibawakan juga jelas menunjukkan bahwa tukang sihir itu kafir. Dengan sihirnya, ia murtad dan keluar dari Islam, karena ia menyembah dan menaati syaitan, bukan Allah.

Mengapa sihir disebut terpisah dari syirik?

Dalam hadits tujuh perkara, Nabi ﷺ menyebut sihir setelah syirik, padahal sihir termasuk syirik. Menurut Syaikh Abdur Razzaq, hal ini tidak bermasalah. Kadang sesuatu disebut bersama bagian dari dirinya untuk menegaskannya, dan kadang lafazh khusus disandingkan dengan lafazh umum. Jadi sihir tetap termasuk kekafiran dan kesyirikan kepada Allah.

Rugi dunia dan akhirat

Imam Adz-Dzahabi berpesan: “Hendaklah seorang hamba takut kepada Rabbnya, dan tidak memasuki sesuatu yang akan menyebabkan kerugian dunia dan akhiratnya.” Menurut Syaikh Abdur Razzaq, dengan melakukan sihir seseorang menjual agamanya. Begitu pula orang yang mendatangi tukang sihir: ia juga menjual agamanya.

Rugi di dunia

Tukang sihir termasuk manusia paling hina, rendah, dan kotor. Ia selalu menyepi dalam kegelapan, bergelut dengan kotoran: kotor dirinya, keadaannya, dan tempatnya.

Rugi di akhirat

“…niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102). Ia tidak punya bagian apa pun.

Syaikh Abdur Razzaq merekomendasikan sebuah risalah kecil yang besar faidahnya, Ba-i’un Dinahu (Penjual Agamanya), karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim, imam Masjid Nabawi. Judulnya senada dengan pesan Imam Adz-Dzahabi di atas.

Bagian 6 dari 7

Mendatangi tukang sihir, jimat, dan pelet

Haram mendatangi tukang sihir, meski untuk melepas sihir

Syaikh Abdur Razzaq mengingatkan: mendatangi tukang sihir hukumnya haram, bahkan dengan tujuan melepas sihir. Nabi ﷺ pernah ditanya tentang nusyrah, yaitu melepas sihir dari orang yang terkena sihir, lalu beliau bersabda:

إِنَّهُ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

“Nusyrah itu termasuk perbuatan syaitan.”HR. Ahmad dan Abu Dawud

Yang dimaksud adalah melepas sihir dengan sihir lain, atau dengan pergi ke tukang sihir.

Yang disyariatkan: ruqyah syar’i

Melepas sihir dengan Al-Qur’an, mu’awwidzatain, doa-doa ma’tsur, dzikir syar’i, dan berlindung kepada Allah itu dianjurkan dan disyariatkan. Jibril ‘alaihissalam pernah meruqyah Nabi ﷺ ketika beliau terkena sihir dengan bacaan:

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata pendengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu.”HR. Muslim

Disyariatkan

Ruqyah dengan Al-Qur’an, mu’awwidzatain, doa ma’tsur, dzikir syar’i, dan berlindung kepada Allah.

Haram

Melepas sihir dengan sihir, atau mendatangi tukang sihir. Termasuk perbuatan syaitan.

Ulama salaf berkata: “Tidak ada yang melepaskan sihir selain tukang sihir.” Maknanya, sihir tidak boleh dilepas dengan sihir, sehingga tukang sihir tidak boleh didatangi.

Mengobati flu, malah terkena kusta

Orang yang pergi ke tukang sihir untuk melepas sihir dari dirinya atau orang lain seperti orang yang hendak mengobati flu, lalu justru terkena kusta. Ia ingin menghilangkan penyakit di badannya, tetapi malah meruntuhkan agamanya.

Padahal ia bisa berobat, dan penyakitnya akan hilang dengan izin Allah. Atau ia bersabar sambil mengharap pahala, sehingga penyakitnya menjadi pelebur dosa. Namun ia tidak puas dan tidak sabar, lalu pergi ke tukang sihir dan menjual agamanya demi kesembuhan.

Laporkan, jangan didatangi

Pendapat yang membolehkan mendatangi tukang sihir untuk melepas sihir mengandung keburukan dan petaka, karena pada hakikatnya mengakui keberadaan tukang sihir dan membenarkan orang pergi kepada mereka. Kewajiban seorang muslim yang mengetahui adanya tukang sihir adalah melaporkannya kepada pihak yang berwenang, agar kaum muslimin terbebas dari keburukannya. Bukan malah berkata “Pergilah kepadanya”, atau mendorong orang lain menemuinya dengan alasan melepas sihir.

Orang yang membenarkan sihir

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ

“Tiga golongan manusia yang tidak masuk surga: pecandu minuman keras, pemutus tali silaturahim, dan orang yang membenarkan sihir.”HR. Ahmad dalam Musnad-nya

Pecandu khamar dan pemutus silaturahim termasuk pelaku dosa besar. Adapun membenarkan sihir adalah kekufuran kepada Allah. Bagaimana mungkin seseorang membenarkan sihir, padahal Allah telah menjelaskan kafirnya tukang sihir dalam banyak ayat? Nabi ﷺ juga bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ فِيمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur’an).”HR. Ahmad

Jampi-jampi, jimat, dan tiwalah

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan secara marfu’:

الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ وَالتِّوَلَةُ شِرْكٌ

“Jampi-jampi, jimat, dan tiwalah itu syirik.”HR. Ahmad dan Abu Dawud

Ketiganya umumnya ada pada tukang sihir dan menjadi media sihir.

Ar-ruqajampi-jampi
Jampi-jampi yang lazim dikenal di kalangan orang musyrik. Tukang sihir membacanya sambil meniup pasien, juga meniup benda yang ia berikan, seperti lembaran kertas atau buku.
At-tama-imjimat
Jimat dan tolak-bala. Bisa berupa merjan yang katanya menangkal penyakit ‘ain, atau kertas bertulisan jampi-jampi yang dibungkus, dimasukkan ke kaleng atau kulit, lalu digantung di rumah atau dikalungkan di leher dan lengan.
At-tiwalahpelet
Sesuatu yang katanya membuat istri makin mencintai suaminya, atau membuat suami-istri saling mencintai.

Media lain yang ada pada tukang sihir: merjan, rumah siput, cangkang kerang, buhul, serta barang milik orang yang hendak disihir, seperti rambut atau bajunya. Ketika tukang sihir ditangkap, benda-benda seperti inilah yang ditemukan.

Jimat kadang berisi ayat-ayat Al-Qur’an, ayat Kursi, atau surah Al-Ikhlas lengkap. Namun di bagian atas, bawah, atau tengahnya tertulis nama-nama syaitan dan huruf-huruf salib. Semua itu dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada syaitan dengan melecehkan Al-Qur’an Al-Karim.

Bagian 7 dari 7

Uzur bagi yang tidak tahu, dan pelajaran

Imam Adz-Dzahabi mengingatkan bahwa kebanyakan kaum muslimin tidak tahu apa saja yang termasuk dosa besar. Hanya sedikit yang mereka ketahui keharamannya, dan peringatan keras tentangnya tidak sampai kepada mereka.

Karena itu, seorang ulama tidak perlu terburu-buru memvonis dan menghukum orang yang jahil. Ia harus bersikap lemah lembut dan mengajarkan sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadanya.

Contoh dari Imam Adz-Dzahabi

Bayangkan orang yang baru keluar dari kejahiliyahan. Ia hidup di negeri kafir yang terpencil, lalu ditawan dan dibawa ke negeri Islam. Ia tidak mengenal bahasa Arab, lalu dibeli oleh seorang amir yang juga tidak berilmu.

  • Jika dengan susah payah ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan memahami maknanya dalam beberapa hari, itu sudah bagus.
  • Mungkin ia shalat, mungkin tidak. Menghafal Al-Fatihah saja bisa memakan waktu lama, itu pun jika gurunya punya ilmu agama.
  • Jika gurunya orang yang buruk, dari mana ia bisa mengenal syariat, menjauhi dosa besar, dan mengetahui kewajibannya?
  • Jika ia diberitahu dosa-dosa besar, rukun Islam, dan kewajiban-kewajibannya lalu meyakininya, ia tergolong orang yang bahagia. Namun ini jarang terjadi.

Maka seorang hamba harus memuji Allah yang telah menyelamatkan dirinya. Jika ada yang berkata orang seperti itu lalai karena tidak bertanya, jawabannya: memang hanya itulah yang ada di kepalanya, dan ia tidak merasa wajib bertanya kepada orang yang bisa mengajarinya.

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

“…Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”QS. An-Nur: 40

Seseorang tidak berdosa kecuali setelah ia tahu dan hujjah telah tegak atasnya. Allah Mahalembut dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Kami tidak menyiksa hingga Kami mengutus seorang rasul.”QS. Al-Isra’: 15

Sejumlah pembesar Sahabat yang tinggal di Habasyah (Ethiopia) baru menerima syariat pengharaman beberapa bulan setelah turun kepada Nabi ﷺ. Selama itu mereka dimaklumi karena tidak tahu. Begitu pula setiap orang yang tidak tahu: ia punya uzur hingga mendengar nash yang melarang perbuatannya. Wallahu a’lam.

Penjelasan Syaikh Abdur Razzaq

  • Keadaan seperti ini juga dialami mualaf di negeri Barat. Mengajari mereka butuh kesabaran dan waktu lama.
  • Namun Allah memberi ilham kepada sebagian mereka sehingga cepat belajar. Syaikh Abdur Razzaq bercerita tentang seorang pelajar di Madinah yang baru tiga tahun masuk Islam, tetapi ilmunya tentang nash dan dalil lebih baik daripada kebanyakan orang yang tumbuh di tengah masyarakat Islam.
  • Mualaf berada di fase peralihan dari kekafiran menuju Islam, sehingga belajarnya bertahap, dan ini bisa dimaklumi.
  • Adapun orang yang tumbuh besar di negeri Islam, di tengah para ulama, ketika ilmu dan kitab-kitab tersebar luas dan hujjah telah tegak, ia tidak punya uzur jika tidak tahu tentang Islam.

Pelajaran yang bisa dipetik

  1. Sihir adalah kekufuran. Tukang sihir tidak mungkin menjadi penyihir kecuali dengan kufur kepada Allah dan menaati syaitan.
  2. Dari sisi bahayanya, sihir lebih berat daripada membunuh, sesuai urutan dalam salah satu riwayat hadits tujuh perkara yang membinasakan.
  3. QS. Al-Baqarah: 101–103 menunjukkan kafirnya tukang sihir dari tujuh sisi.
  4. Menganggap sihir “hanya haram” adalah tipu daya syaitan yang menyeret orang meremehkan dosa besar.
  5. Sihir ada yang ilusi dan ada yang nyata. Pengasihan (‘athaf) dan pengalihan (sharf) antara suami-istri termasuk sihir.
  6. Sihir dibangun di atas pelecehan Al-Qur’an, meninggalkan shalat, dan ketaatan kepada syaitan.
  7. Hukuman hadd bagi tukang sihir adalah dibunuh. Taubatnya tetap diterima Allah, tetapi tidak menggugurkan hukuman di dunia.
  8. Mendatangi tukang sihir haram, meski untuk melepas sihir. Lepaskan sihir dengan ruqyah syar’i, dan laporkan tukang sihir kepada pihak yang berwenang.
  9. Membenarkan sihir dan dukun adalah kekufuran. Jampi-jampi syirik, jimat, dan pelet adalah syirik.
  10. Orang yang benar-benar tidak tahu punya uzur hingga hujjah sampai kepadanya, maka ajarilah ia dengan lemah lembut.

Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari sihir dan kejahatan para tukang sihir. Aamiin.

Rujukan: Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, Al-Kabair, syarah Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Edisi terjemahan 77 Dosa Besar, bab “Dosa Besar Ke-3: Sihir”, hlm. 77–98. Seluruh ayat dan hadits dikutip sebagaimana dibawakan dalam kitab tersebut.

Catatan: Tulisan ini hanya ringkasan. Untuk penjelasan yang lebih lengkap dan pemahaman yang lebih utuh, bacalah langsung kitabnya.

Lihat daftar lengkap 77 dosa besar