Kajian Syaikh Abdurrahman As-Sudais. – Jiwa seorang yang beriman kepada Allah adalah lembut yang condong kepada kasih sayang, tidak penuh dengan permusuhan dan celaan.
Pertanyaan
Bagaimana jika seseorang kembali kepadamu untuk meminta maaf, sedangkan engkau mampu membalasnya?
Jawaban
Bersegeralah untuk memaafkan orang yang datang untuk meminta maaf.
Allah ta’ala berfirman,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Allah juga berfirman,
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian suka bahwa Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)
Serta firman-Nya,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A‘raf: 199)
Salah satu bentuk kasih sayang yang indah dan akhlak yang baik adalah dengan tidak terlalu banyak menyalahkan dan mencela, tidak suka mengeluh dalam pembicaraan dan pergaulan karena hal itu termasuk hal yang mampu memutus tali persaudaraan tanpa penghalang.
Tidak akan langgeng kasih sayang bila terus diiringi oleh celaan dikarenakan hati orang yang beriman lembut dan condong kepada kasih sayang oleh karenanya pentingnya menjadi pemaaf dalam bersikap sangat diperlukan.
Perlu diketahui juga janganlah selalu menuntut hak kamu seluruhnya, simpanlah sebagian. Karena orang yang mulia tak pernah menuntut semuanya, mereka bergaul dengan cara yang baik, memaafkan orang yang minta maaf, membalas dengan cara lebih baik kepada orang yang menyakitinya.
Semoga Allah berikan taufiknya kepada kita semua. Aamiin